Berita Jakarta

Bagaimana Cegah Remaja Jakarta Bunuh Diri, Agama Tak Mempan Ini yang Harus Dilakukan!

Larangan agama terhadap bunuh diri ternyata tak menghalangi anak dari ide soal bunuh diri.

Bagaimana Cegah Remaja Jakarta Bunuh Diri, Agama Tak Mempan Ini yang Harus Dilakukan!
shutterstock
Ilustrasi bunuh diri. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Larangan agama terhadap bunuh diri ternyata tak menghalangi anak dari ide soal bunuh diri.

Kesimpulan ini ditemukan psikiater dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ setelah menyurvei 910 pelajar dari SMAN dan SMKN terakreditasi A di DKI Jakarta.

Hasilnya, 5 persen pelajar dari SMAN dan SMKN terakreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri.

"Setiap orang ada faktor risiko dan protektif. Agama sebagai faktor protektif, itu adalah yang saya tanya. Pertama, dia tahu enggak agamanya mengajari apa tentang bunuh diri? Rata-rata tahu agama melarang bunuh diri," ujar Noriyu, panggilan akrab Nova di Universitas Indonesia, Kamis (11/7/2019).

Sebagian besar responden mengaku menghayati atau menaati agama. Dari skala 1 sampai 10, rata-rata mereka menilai dirinya 8 hingga 10 dalam ketaatan beragama.

Baca: Kena Kutukan hingga 8 Anaknya Meninggal, Keluarga Ini Nekat Tinggal dalam Hutan Selama 53 Tahun

Baca: Link Live Streaming Barito Putera vs Bali United Liga 1 2019 di Indosiar Malam Ini, Cek di Vidio.com

Baca: Kejanggalan Sikap Barbie Kumalasari & Galih Ginanjar Saat Rumahnya Didatangi Indra Herlambang Bocor

"Tapi itu tidak menutup potensi munculnya ide bunuh diri. Ini artinya agama tidak benar-benar bisa jadi faktor protektif, agama belum tentu bisa," kata Noriyu.

Pasalnya, lima persen dari 910 responden ternyata punya ide bunuh diri.

Survei mendapati, pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri memiliki risiko 5,39 kali lipat lebih besar karena faktor umur, sekolah, gender, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status cerai orang tua, etnis, keberadaan ayah, keberadaan ibu, kepercayaan agama, depresi, dan stresor (penyebab stres).

Noriyu menjelaskan, pada fase remaja terjadi perkembangan yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, kognitif, dan sosial.

Pada fase middle adolescence (pertengahan masa remaja yaitu usia 14-18 tahun), remaja berpikir secara abstrak tetapi juga mempunyai keyakinan tentang keabadian (immortality) dan kedigdayaan (omnipotence) sehingga mendorong timbulnya perilaku risk-taking (mengambil risiko).
Agama melarang

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved