Berita Tanahlaut

NEWSVIDEO Duka Jumadi Diantara Kerasnya Rawa Transmigrasi di Kabupaten Tanahlaut

Hamparan lahan sawah telihat luas di Kawasan Desa Sungaipinang, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut. Sejauh mata memandang

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hamparan lahan sawah telihat luas di Kawasan Desa Sungaipinang, Kecamatan Tambangulang, Kabupaten Tanahlaut. Sejauh mata memandang, kawasan tersebut hanya ditumbuhi padi dan sejumlah pepohonan.

Di antara tanaman itu, puluhan rumah berjarak ratusan meter nampak berdiri. Bangunan itu terbuat dari papan dan nampak tua. Bahkan tak sedikit bangunan yang rusak, serta tidak ditemui penghuninya.

Ya, kawasan itu merupakan lokasi UPT Transmigrasi Sungai Pinang, Desa Sungaipinang, Kecamatan Tambangulang, Tanahlaut.

Bukan hanya rumah, di kawasan itu juga terdapat masjid dan pendopo yang cukup menampung lebih dari 100 orang. Kondisinya sama, nampak tua dan rusak, bahkan tidak terawat. Begitupun dengan tulisan atau papan pemberitahuan mengenai tempat tersebut.

2008 lalu, warga transmigrasi dari Pulau Jawa dan penduduk lokal dipindahkan ke permukiman itu. Dari informasi yang di dapat, transmigrasi yang di tempatkan sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK). Mereka mendapatkan lahan untuk diolah dan rumah sebagai tempat tinggal.

Baca: Ancaman Kriss Hatta pada Nikita Mirzani, Billy Syahputra dan Hilda Vitria Diungkap pada Raffi Ahmad

Baca: Bila Garbi Jadi Parpol Anis Matta Akan Keluar dari PKS, Sebut Garbi Bakal Terbuka Bagi Siapapun

Baca: Wow! Sekarang Cek Darah Kini Bisa 2 Jam Saja, Disebut Invasi Robot ke Lab Klinik di Jakarta

2019, 11 tahun berlalu, kini tempat itu nampak tak berperan sebagai permukiman pada umumnya. Dari 100 KK yang sempat tinggal di UPT Transmigrasi Sungai Pinang ini, ternyata hanya satu KK yang bertahan. Ia adalah Jumadi dan isrti. Keduanya merupakan petani yang berasal dari Bondowoso, Jawa Timur.

Kepada Bpost, Jumadi pun menceritakan mengenai kondisi Desa Transmigrasi yang kini ia tinggali.

Dulu, ujarnya, permukiman itu sempat ramai selama kisaran tiga tahun. Namun karena warga transmigrasi tidak bisa mengolah lahan di tempat itu dan ada kendala lainnya. Sehingga mereka pun terpaksa harus pindah. Sebagian memilih kembali ke daerah mereka masing-masing. Ada pula yang hanya berpindah ke kawasan luar dan masih tinggal di Kabupaten Tanahlaut.

“Dulu, awal-awal disini rentan banjir. Kami bingung untuk mengolah lahannya. Serta ada pula kendala lainnya yang membuat warga tidak kerasan tinggal disini,” cerita Jumadi.

Ia sendiri mau tidak mau tetap bertahan di kawasan tersebut. Karena untuk pulang ke kampung halaman, Jumadi merasa tidak mampu untuk biaya kembali. Sehingga satu-satunya pilihan ialah bertahan meski hanya tinggal satu keluarganya.

Halaman
123
Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved