Dunia Gawai

Semangat Xiaomi Menembus 5 Besar, Redmi 5A Mengubah Skema Persaingan Smartphone di Indonesia

Pada tahun 2014, Xiaomi untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Indonesia. Vendor smartphone asal China ini membawa Redmi 1S sebagai perangkat

Semangat Xiaomi Menembus 5 Besar, Redmi 5A Mengubah Skema Persaingan Smartphone di Indonesia
Fatimah Kartini/KOMPAS.com
Sewaktu peluncuran Xiaomi Pocophone F1 di Pullman Central Park, Jakarta, Senin (27/8/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada tahun 2014, Xiaomi untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Indonesia. Vendor smartphone asal China ini membawa Redmi 1S sebagai perangkat pertamanya yang dipasarkan di Tanah Air.

Dalam kurun waktu lima tahun, Xiaomi berhasil mengambil hati para pengguna smartphone di Indonesia. Dengan banderol harga yang lebih rendah tapi disertai spesifikasi mumpuni membuat merek ponsel ini semakin dicintai penggunanya.

Berdasarkan laporan, Xiaomi kini tengah menduduki peringkat kedua sebagai ponsel dengan market share terbesar di Indonesia. Samsung masih berada di peringkat pertama sementara di belakang Xiaomi ada dua merek China lainnya yakni Oppo dan Vivo.

Dalam waktu lima tahun, Xiaomi tak hanya berhasil menembus lima besar vendor smartphone di Indonesia, tetapi juga berhasil memberi tekanan pada Samsung yang berada peringkat teratas. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, bagaimana bisa Xiaomi melakukan ini?

Baca: Sama-sama Sasar Segmen Menengah Atas, Ini Perbandingan Spesifikasi Xiaomi Mi CC9 vs Redmi K20

Baca: Banjiri Pasar dengan Galaxy A Series, Samsung Sebut Konsumen Sudah Lebih Melek

Baca: Hal yang Dibenci Ayu Ting Ting pada Bilqis Terungkap di Depan Ivan Gunawan, Gara-gara Enji Baskoro?

Menurut analis IDC Indonesia, Risky Febrian, Xiaomi memang baru terlihat lebih gencar memasarkan produknya pada 2018 lalu. Xiaomi merilis ponsel Redmi 5A dengan harga yang kompetitif sehingga membuat vendor lain harus berupaya membuat lawan yang sepadan untuk produk tersebut.

"Mereka memperkenalkan Redmi 5A. Titik itu mengubah skema persaingan di masing-masing segmen. Mulanya vendor berlumba membuat produk di kelas menengah, akhirnya mereka kembali lagi fokus ke segmen low-end, karena melihat Xiaomi mengancam di segmen ini," ungkap Risky.

Risky menambahkan, apa yang dilakukan Xiaomi dengan meluncurkan Redmi 5A membuat terjadinya disrupsi di pasar low-end dan ultra low-end. Pasalnya, ponsel Redmi 5A memang benar-benar memaksa vendor lain untuk kembali ke segmen yang lebih rendah ketimbang menengah dan atas.

"Kalau tidak, kebanyakan vendor akan kehilangan pangsa pasarnya," tambah Risky.

Senada dengan Risky, Stephanie Sicilia, Head of Public Relations Xiaomi Indonesia menilai bahwa pasar low-end masih memiliki daya tarik tersendiri di mata para konsumen.

"Beberapa perusahaan riset menyatakan bahwa permintaan terbesar masih dipegang oleh produk low-end dengan harga di bawah 200 dollar AS dan smartphone mid-range dengna harga 200 dollar AS hingga 400 dollar AS," ungkap Stephanie kepada KompasTekno.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved