Opini Publik

Jujuran, Tantangan ataukah Halangan?

Pro dan kontra terkait jujuran banyak terjadi di masyarakat. Ada pula yang menganggap meminta jujuran besar, sama seperti menjual anak.

Jujuran, Tantangan ataukah Halangan?
Istimewa
petunangan pernikahan 

Oleh: Nor Rahma Rizka
Mahasiswi STIE Indonesia Banjarmasin

Jujuran merupakan kata yang sangat tidak asing bagi masyarakat di Kalimantan Selatan khususnya Suku Banjar. Tidak hanya di Kalimantan Selatan, masyarakat yang menganut adat istiadat dan budaya Banjar di provinsi tetangga pun menerapkan sistem “Jujuran” dalam rangkaian proses menuju pernikahan.

Jujuran ini terkadang membuat orang dari daerah lain men-cap bahwa menikah dengan gadis Banjar itu mahal. Pro dan kontra terkait jujuran banyak terjadi di masyarakat. Ada pula yang menganggap meminta jujuran besar, sama seperti menjual anak.

Konsep jujuran ini sebenarnya mirip dengan yang diterapkan oleh masyarakat di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti di Makassar yang dinamakan “Uang Panaik”. Namun setiap daerah memiliki standar atau kebiasaan yang berbeda terkait dengan konsep tersebut.

Apakah Jujuran Itu?

Jujuran berbeda dengan mahar. Jujuran merupakan adat istiadat atau kebiasaan berupa pemberian sejumlah uang dari pihak calon mempelai laki-laki kepada pihak calon mempelai perempuan. Uang yang diberikan tersebut biasanya digunakan sebagai salah satu sumber dana untuk pelaksanaan rangkaian resepsi perkawinan. Mirisnya, kadang masyarakat menjadikan jujuran sebagai alat untuk menunjukan gengsi.

“Semakin besar jujuran yang diberikan oleh pihak laki – laki, semakin tinggi nilai wanita maupun keluarga wanita tersebut di masyarakat”, mind set inilah yang tertanam di masyarakat Banjar kebanyakan.

Kebiasaan menanyakan nominal jujuran kepada keluarga calon pengantin seakan jadi ketakutan tersendiri bagi pihak perempuan apabila pihak laki-laki yang ingin menikahinya tidak dapat memberikan jujuran dengan nominal yang tinggi.

Malu dan khawatir digunjing apabila jujuran yang akan didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak sedikit kasus di Kalimantan Selatan, hanya karena pihak calon mempelai laki-laki tidak sanggup memberi jujuran sesuai dengan permintaan pihak calon mempelai perempuan pernikahan mereka dibatalkan oleh pihak keluarga.

Hal ini sungguh sangat disayangkan mengingat pernikahan merupakan sebuah jalan menuju ibadah, terhalang hanya karena nafsu dan gengsi belaka.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved