Berita Tanahbumbu

NEWSVIDEO : Harga Karet Tak Kunjung Membaik, Petani Karet Terpaksa Gali Lubang Tutup Lubang

Merosotnya harga penjualan karet hanya cukup untuk bertahan hidup dan biaya pendidikan anak sekolah hingga ke jenjang pendidikan lebih tinggi (kuliah)

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Fluktuatif harga jual karet terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir terus membuat risau petani. Sempat sebulan harga karet mencapai Rp 9.000, kini kembali merosot pada harga Rp 8.200 perkilogram.

Masih jauh dari kestabalian harga karet, membuat risau petani di wilayah khususnya Desa Sumber Wangi, Kecamatan Karang Bintang, Kabupaten Tanahbumbu.

Jauh berbeda di tahun 2011 hingga 2013, harga penjualan karet oleh petani mencapai Rp 15.000 hingga Rp 16.000 perkilogram. Harapan itu kini telah jauh sejak delapan tahun terakhir.

Merosotnya harga penjualan karet hanya cukup untuk bertahan hidup dan biaya pendidikan anak sekolah hingga ke jenjang pendidikan lebih tinggi (kuliah).

Baca: Kebakaran Lahan Mulai Muncul di Balangan, Hotspot Terlacak di Daerah Ini Lokasinya

Baca: Nikita Mirzani Dapat Komentar Menohok Anwar Fuadi Setelah Jadi Tersangka Atas Laporan Dipo Latief

Baca: Soal Harga Karet, Pemkab Tapin Dorong Peningkatan Mutu Bahan Olah Karet

Baca: Jelang Musim Haji, Harga Telur Naik Tipis, Harga Ayam di Kisaran Rp 26.000 per Kg

Memaksa mereka, sebagian besar petani karet di desa Sumber Wangi untuk tidak memelihara kebun secara maksimal. Padahal kebun karet sumber penghasilan mereka.

Seperti tidak melakukan pemeliharaan dan pemberian pupuk untuk tanaman karet. Sementara tidak pernah ada bantuan dari pemerintah atau pemerintah daerah.

Martono, petani karet desa Sumber Wangi, mengakui sejak lima tahun terakhir hingga sekarang, harga karet turun. Dibanding pada tahun 2011-2013 sempat mencapai harga Rp 15.000.

Martono pun bingung, jika harga karet terus turun. Sementara karet penghasilan utamanya mencukupi kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak.

"Kalau harga karet gini terus, hidup kita (petani) gimana," keluh Martono kepada banjarmasinpost.co.id, Selasa (16/7/2019).

Petani dikarunia tiga orang anak ini, juga menyatakan fluktuatif harga karet dalam berapa tahun terakhir. Menjadi keluhan utama petani, saat harga naik hanya berkisar Rp 500. Tidak sebanding dengan nilai penurunan.

Halaman
12
Penulis: Herliansyah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved