Kisah Wanita Pecinta Alam Bertahan Hidup

Tersesat Antara Desa kKram menuju Desa Jungur Kabupaten Banjar ini yang Dilakukan Vrista

Kisah petualangan ekstrem sebagai mahasiswa pecinta alam lainnya dialami dengan senang gembira oleh Vrista Beria dari Iwapalamika STMIK Indonesia.

Tersesat Antara Desa kKram menuju Desa Jungur Kabupaten Banjar ini yang Dilakukan Vrista
ist/Vrista
Vrista Beria saat berada di kawasan Mandiangan, Kabupaten Banjar 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kisah petualangan ekstrem sebagai mahasiswa pecinta alam lainnya dialami dengan senang gembira oleh Vrista Beria dari Iwapalamika STMIK Indonesia Banjarmasin. Tersesat juga pernah dialaminya hingga lolos, bahkan diserang kutu air.

Pemilik nama Lungang di organisasi mapala yang diikutinya ini mengatakan pengalamannya itu begitu berkesan dan selalu teringat.

Bagi dia yang sudah lulus kuliah tahun 2016 ini pengalaman itu dirasa seru karena bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan dengan alam yang begitu indah dan naik gunung bareng rekan yang kompak.

" Ya ada pengalaman ekstrem bagi saya waktu itu ada kegiatan sampai kami pernah tersesat sore jelang malam saat itu. Sampai kita memutuskan istirahat di tengah hutan. Ya di daerah desa Kiram menuju Desa Jungur, Suasana hutan saat itu turun hujan," kata dia.

Baca: Berpetualang di Alam Hanuru Banjar, Anggota Mapala Sylva Irawati Terpaksa Minum Air Sungai Kotor

Baca: Merinding, Akibat Salah Jalur Wanita Pecinta Alam ini akhirnya Lolos dari Pasar Watu Gunung Sumbing

Baca: Ada Pohon Keramat Kariwaya dan Kondisi Jalan ke Gunung Halau-halau Bikin Kaget Aprilia

Kawasannya itu masuk Sungai Hanaru, daerah Pelaihari.

"Kita pake gps dong nyari jalurnya, Dan kita meneruskan perjalanan di pagi hari saja. Karena dalam dunia Mapala kalau sudah pukul 18.00 lebih baik cari tempat istirahat, Tidak memungkinkan kita mencari jalur di malam hari," kata dia.

Vrista Beria
Vrista Beria (ist/Vrista)

Dikatakannya, seandainya tersesat di Mandingin masih tidak terlalu berpengaruh karena menurutnya pasti akan mudah saja bertemu jalan keluar.

"Tapi sakitnya itu pas kegiatan kaki kutu airan karena saat itu harinya hujan terus," kata dia.

Dia juga punya pengalaman di bukit baru Samarinda Kalimantan timur. Pasalnya dia bisa mendaki meski kiri kanan jurang.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved