Berita Banjarmasin

Hotspot Kalsel Mengalami Penurunan di 2019, BPBD Kalsel Dirikan Lima Posko di Sini, Ini Tujuannya

Deteksi hotspot di 2015 hingga 2019 trennya terjadi penurunan. Tahun ini hingga 4 Juli 2019 hotspot terpantau 500 titik dan 2018 sebanyak 607 titik.

Hotspot Kalsel Mengalami Penurunan di 2019, BPBD Kalsel Dirikan Lima Posko di Sini, Ini Tujuannya
banjarmasinpost.co.id/irfani rahman
Acara kegiatan Pembekalan Kesiapan Menghadapi Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalsel, Rabu (17/7/2019) siang 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi hampir setiap tahun di beberapa provinsi di Indonesia tampaknya menjadi pembelajaran semua pihak guna melakukan pencegahan kedepannya .

Untuk meminimiisir terjadinya karhutla ini perlu peran serta semua pihak dan bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) , dan Pemrov Kalsel melaksanakan kegiatan Pembekalan Kesiapan Menghadapi Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalsel, Selasa (16/7) dan Rabu (17/7) .

Dr Herry Porda Nugroho , M Pd dari FKIP ULM mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dan hingga kini terjadi berdampak pada banyak hal termasuk sekolah.

Baca: Cegah Karhutla, BKO TNI/Polri dari Mabes Menginap di Desa Rawan Karhutla di Kalsel

Menurutnya dalam kontek ini bagaima pendidikan menyikapi permasalahan ini dan kebakaran mengganggu kehidupan kita dan dimana dampak bencana ini adanya ISPA . Sekolah sendiri sebagai tempat strategis untuk pengembangan potensi peserta didik dalam pengurangan risiko bencana khususnya karhutla.,

Kasubdit Cegah Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) , Ir Sunarno MP mengungkapkan kebakaran di Indonesia 2015 dan sebelumnya, menyebabkan terjadi asap lintas negara karena mayoritas kebakaran di Sumatera dan Kalimantan terjadi di lahan gambut.

"Api tak kelihatan karena dibawah namun asapnya dimana mana,""ucapnya .

Deteksi hotspot di 2015 hingga 2019 trennya terjadi penurunan. Tahun ini di hingga 4 Juli 2019 hotspot terpantau 500 titik dan pada 2018 sebanyak 607 titik.

Dan Hotspot di Kalsel pun menurun dan sama dengan tren nasional.

Baca: Hadapi Ancaman Karhutla, Polres Balangan Siapkan Personel dan Peralatan Penanggulangan Kebakaran

Kasubdit Kedarurat dan Logistik BPBD Kalsel, S Dinarja MH mengatakan saat ini pihaknya siap siaga kebakaran hutan dan lahan di Kalsel dan kalau sudah ada siap siaga berarti harus ada tanggap darurat dan saat ini pihaknya dirikan ada lima posko di lima kabupaten.

Pertama Posko Induk di BPBD Kalsel di Jalan Dhama Praja No2 Banjarbaru, kedua Posko Sambang Lihum yang memback up nanti bandara Syamsudin Noor karena objek vital, ketiga Posko di sekitar Guntung Damar karena disana berpotensi terjadi Karhutla dan oleh pimpinan Gubernur Kalsel dan Kepala BPBD Kalsel fokus utama penanganan di Banjarbaru.

Petugas Pusdalops Posko BPBD Batibati memadamkan api secara manual karena mobil pemadam tak dapat menjangkau titik api karena tak ada jalan untuk roda empat di Jalan Teluk Paku, Desa Batibati, Senin (18/6/2018).
Petugas Pusdalops Posko BPBD Batibati memadamkan api secara manual karena mobil pemadam tak dapat menjangkau titik api karena tak ada jalan untuk roda empat di Jalan Teluk Paku, Desa Batibati, Senin (18/6/2018). (ist)

Keempat Posko Bati-bati ada lapangan sepakbola. Bati-Bati dan kelima ,Posko Mandastana Batola untuk back up sekitar lokasi sana termasuk jalan raya.

Ditambahkannya semua komponen, pihak yang punya kewajiban dan pihaknya masukan ke pos gabungan wajib kedatangannya tiap hari yang telah di intruksikan Gubernur.

Baca: Udara Palangkaraya Bercampur Bau Asap Dampak Karhutla, Wali Kota Fairid Naparin Ikut Padamkan Api

Daerah apa yang rawan Karhutla, S Dinarja mengatakan ada lima daerah yang rawan yakni Banjarbaru, Tanah Laut, Batola, Tapin dan Kab Banjar. Dan potensi lebih besar adalah Banjarbaru yakni di daerah Liang Anggang dan Bati-bati. Tala dan sekitar kabupaten Banjar yakni daerah Martapura Barat. (banjarmasinpost.co.id/irfani)

Penulis: Irfani Rahman
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved