Opini Publik

Membangun Karakter Kejujuran Anak Didik

Salah satu masalah di negeri ini yang sulit dicari kebenaran dan solusinya adalah tentang ketidakjujuran. Banyaknya kasus korupsi, penipuan

Membangun Karakter Kejujuran Anak Didik
KOMPAS.com/ Karnia Septia
Para kakak asuh di SDN 2 Cakranegara menemani murid kelas satu, mengenali lingkungan sekolah. 

OLEH: M NOOR SAG, Kepala Madrasah MIN 9 Anjir Pasar

BANJARMASINPOST.CO.ID - Salah satu masalah di negeri ini yang sulit dicari kebenaran dan solusinya adalah tentang ketidakjujuran. Banyaknya kasus korupsi, penipuan, penggelapan uang, dan kasus kriminal lainnya didominasi oleh ketidakjujuran. Jangan sampai anak didik kita terjebak dalam kasus-kasus tersebut.

Ada orang yang berkata orang pintar itu banyak tapi orang yang jujur itu sangat sedikit. Untuk itu pendidikan karakter kejujuran harus ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, agar anak menjadi generasi penerus yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Adapun pengertian karakter kejujuran itu dari kata “character” dalam Bahasa Inggris berarti “sifat” dalam Bahasa Indonesia Kata “sifat” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki banyak padanan kata, antara lain: perangai, watak, tabiat, dan akhlak.

Siswa yang memiliki karakter kejujuran adalah siswa yang batinnya cenderung lurus atau tidak curang sehingga mempengaruhi pikirannya (akalnya) untuk selalu mencari cara berbuat jujur yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan tingkah lakunya baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya.

Kecenderungan siswa yang memiliki karakter jujur akan berusaha untuk selalu berbuat jujur, bahkan bisa jadi mencegah orang lain berbuat tidak jujur, atau cenderung mengkritik atau membenci teman atau lingkungannya yang tidak jujur.

Tingkatan Kejujuran
Ada 3 tingkatan kejujuran yakni; Kejujuran dalam ucapan yaitu kesesuaian ucapan dengan realiti; Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; Kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tertinggi dimana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita melihat bahkan juga ikut terlibat dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial di masyarakat. Salah satunya wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti: orangtua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata “Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, tidak sakit kan? Jangan menangis, ya!”. Hal ini secara tidak langsung anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat “berbohong”, dengan menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (agar tidak menangis).

Contoh lain juga dapat kita lihat pada kegiatan belajar di sekolah. Siswa yang duduk di bangku sekolah dasar, sering mengalami kesulitan dalam menerapkan sikap jujur ketika proses belajar berlangsung. Terkadang mereka terlihat bertingkah laku dengan jujur, tapi tanpa kita sadari ketika materi yang diberikan oleh guru bidang studi belum dapat dipahami, mereka menyembunyikan hal itu. Mereka bahkan mengatakan bahwa mereka telah memahami materi tersebut. Hal ini dengan sendirinya akan mengajak mereka untuk berbuat tidak jujur terhadap mata pelajaran yang mereka pelajari.

Jadi, beberapa penyebab anak kecil berbohong diantaranya, karena takut dimarahi atau dihukum karena berbuat salah. Melihat kebohongan yang ada di sekitarnya (orangtua, guru, keluarga).

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved