Berita HST

Tarian Penyambung Razaki Wan Adat Bakal Tampil di Festival Banjar, Sarat Pesan Mengenai Alam Meratus

Koreografer Penyambung Razaki Wan Adat, Ansyari Rahmat, membeberkan jika tarian menceritakan mengenai konflik Meratus saat ini.

Tarian Penyambung Razaki Wan Adat Bakal Tampil di Festival Banjar, Sarat Pesan Mengenai Alam Meratus
Istimewa/Ansyari untuk Banjarmasin Post
Tari Penyambung Razaki wan Adat dari Barabai HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Lenggak lenggok penari asal Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari SMAN 1 Barabai berlatih untuk tampil di Festival Budaya di Jakarta pada Minggu (21/7/2019).

Yap, Kabupaten Hulu Sungai Tengah juga berkontribusi dalam pagelaran Festival Banjar ini. Bentuknya berupa tarian.

Nama tariannya Penyambung Razaki Wan Adat. Tarian ini menceritakan mengenai adat di Pengunungan Meratus. Tak hanya adat istiadat masyarakatnya saja. Tarian ini juga memiliki pesan penting untuk melindungi Pegunungan Meratus.

Koreografer Penyambung Razaki Wan Adat, Ansyari Rahmat, membeberkan jika tarian menceritakan mengenai konflik Meratus saat ini.

Apalagi, saat ini Pegunungan Meratus masih dalam sengketa konflik pertambangan.

Dibeberkan, tarian yabg ia ciptakan mengenai kehidupan masyarakat Adat Meratus yang hidup dari alam dan untuk alam.

Baca: Oprit Jembatan Kalumpang-Margasari yang Retak Akhirnya Ables, Pemkab HSS Laporkan ke Balai Jalan

Jika hutan dirusak karena tambang, maka masyarakat tidak lagi hidup dari alam.

"Judulnya Penyambung Razaki Wan Adat, artinya penyambung rezeki dan adat. Apa itu penyambungnya ya Pegunungan Meratus dan hutan beserta isinya. Jika rusak maka tidak bisa lagi masyarakat bercocok tanam. Apalagi, dalam tarian juga menampilkan koreo mengenai manugal," bebernya.

Selain itu, tarian ini juga memiliki pesan agar hutan Meratus jangan dirusak. Sebab, akan ada adat istiadat yang bakal terganggu seperti proses tanam menanam.

Dalam tarian juga menampilkan gaya manugal (menanam benih di tanah atau gunung, red) menggunakan asak (alat membuat lubang pada tanah untuk menanam benih, red) dan cupikian (wadah untuk meletakan padi atau benih, red).

Halaman
12
Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved