Health

Ditangan Tiga Mahasiswa UGM Ini, Limbah Ceker Jadi Obat Patah Tulang

Ditangan tiga mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), limbah ceker ayam berhasil diolah menjadi obat patah tulang.

Ditangan Tiga Mahasiswa UGM Ini, Limbah Ceker Jadi Obat Patah Tulang
suara.com
Yudith Violetta P (Fakultas Kedokteran Hewan), Vigha Ilmanafi A (Fakultas Farmasi) dan Josi Aldo Pramono (Teknik Mesin) yang berhasil mengolah ceker ayam menjadi obat patah tulang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Selama ini, setelah dinikmati Ceker ayam hanya tidak lebih menjadi limbah yang tidak bernilai.

Namun, ditangan tiga mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), limbah ceker ayam berhasil diolah menjadi obat patah tulang.

Ketiga mahasiswa menyebut obat patah tulang dari limba ceker ayam ini dengan nama Betagraft.

Mereka adalah Yudith Violetta P (Fakultas Kedokteran Hewan), Vigha Ilmanafi A (Fakultas Farmasi) dan Josi Aldo Pramono (Teknik Mesin)  yang berhasil mengolah ceker ayam sehingga menghasilkan biomaterial bone graft dalam bentuk gel nano-BCP-kolagen.

Baca: Dirilis Perdana di Indonesia, Honda ADV150 Ditarget Rebut Hati Pengguna Matic

Baca: Tiga Kali Tes Praktek, Ahmad Fikri Semringah Akhirnya Dapat SIM C

Baca: 7 Kota di Indonesia dengan Harga Tiket Bioskop Termahal, Banjarmasin Urutan Pertama

Baca: Biaya Hidup di Swiss Tinggi, Gaji Besar Tak Bikin Kaya, Masyarakatnya Justru Sejahtera, Kok Bisa?

"Kami mengolah sampah biologis yang ketersediaanya sangat melimpah di Indonesia yaitu ceker ayam," papar Yudit seperti dikutip dari suara.com.

Mereka mengolah ceker ayam yang banyak ditemukan di rumah potong ayam. Limbah ceker itu diformulasikan dalam bentuk gel yang mudah diaplikasikan.

Pengujian efektivitas obat dilakukan pada hewan tikus wistar usia 2 bulan.

Hasil pengujian menyebut Betagraft dalam bentuk gel ini lebih efektif dibandingkan dengan implan konvensional. Ini karena kelebihannya yang bisa fleksibel dan dapat menjangkau pada seluruh fragmen patahan tulang.

Formulasinya pun mengandung material BCP yang berupa nanokristalin. Formula ini memiliki ukuran yang mirip dengan jaringan tulang normal.

 "Fakta ini memungkinkan produk ini lebih cepat diabsorbsi dibandingkan biomaterial konvensional karena bila ditinjau dari luas kalus dan histopatologi sebagai parameter kesembuhan, betagraft mampu mempercepat kesembuhan fraktur dibandingkan bone graft konvensional," tandasnya.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved