BPost Cetak

Anak Saya Tak Tertarik Politik

DALAM beberapa hari belakangan beredar dokumen bertajuk Risalah Rapat Pengangkatan Menteri Pembantu Presiden dalam Kabinet Kerja Jilid II Periode 2019

BPost Cetak
BPost Edisi Sabtu (20/7/2019) 

Saat ini dunia berubah cepat dan dinamis. Dalam kondisi seperti itu yang dapat merespon paling cepat ya anak muda. Menurut saya warna anak muda perlu kelihatan. Ya bisa saja umur 20, 25 tahun. Tapi ya harus punya pengalaman managerial. Bukan hanya sekadar muda usia saja. Selain itu juga mampu mengeksekusi program yang telah ditentukan.

Tidak ada rencana atau pemikiran membawa anggota keluarga masuk ke dunia politik?

Sampai detik ini saya melihat anak-anak saya tidak tertarik ke dunia politik. Gibran (Gibran Rakabuming, anak sulung Jokowi), Kaesang (Kaesang Pengarep, anak bungsu), maupun yang lain senangnya di dunia usaha. Tapi ya nggak tahu lagi, kalau tahu-tahu besok pagi bilang, “Pak saya kepingin jadi wali kota.” Siapa tahu. Minggu depan bilang, “Pak saya siap jadi wali kota.”

Kalau ditanya itu, saya akan bilang, ya jadi saja. Saya tidak pernah memaksa anak saya masuk ke dunia politik. Saya serahkan sepenuhnya kepada mereka untuk menentukan pekerjaan dan karier masing-masing. Kalau tahu-tahu mereka ada yang bilang, “Pak saya siap untuk ikut pilkada,” saya bilang maju saja. Itu jawaban saya.

Pada masa pemerintahan Anda, proyek infrastruktur begitu masif. Setelah itu apalagi targetnya?

Masih banyak kebutuhan infrastruktur yang belum kita selesaikan. Ini kan baru awal, meski dilakukan secara besar-besaran. Coba dilihat infrastruktur per kapita kita, masih rendah sekali. Bandingkan dengan Malaysia dan Thailand atau China, kita masih rendah sekali.

Memang setelah dilakukan pembangunan infrastruktur selama lima tahun belakangan ini ranking kita naik drastis. Ranking kita, seingat saya naik menjadi 50 dari semula 70-an.

Mengapa pembangunan infrastruktur secara besar-besaran belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi?

Ya karena pertumbuhan ekonomi global yang turun terus. Masih untung kita tidak ikut turun. Coba bandingkan dengan negara lain, baru bisa kelihatan. Lihat saja di Uni Eropa, Amerika Selatan, silakan dibandingkan.

Pembangunan infrastruktur ini memang belum selesai. Nanti kalau sudah dikoneksikan dengan kawasan wisata, kawasan industri, kawasan perkebunan, pertanian, perikanan, kawasan ekonomi khusus, kawasan industri kecil, kawasan industri besar, baru manfaat ekonominya kelihatan.

Yang kita banguan ini kan baru besarnya, sehingga tugas pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menghubungkan infrastruktur utama dengan kawasan-kawasan yang saya sebut tadi. Kalau mereka tidak mampu, ya pemerintah pusat ikut turun tangan.

(feb/amb/yls/wil/deo)

 Artikel ini lebih lengkap bisa dibaca di Banjarmasinpost Edisi Sabtu (20/9/2019)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved