Berita Internasional

Bahaya #AgeChallenge FaceApp! Bagaimana dengan Aplikasi Lokal yang Menverifikasi Akun Via KTP

Selama beberapa hari terakhir, tantangan #AgeChallenge dari aplikasi wajah tua FaceApp menjadi perhatian publik.

Bahaya #AgeChallenge FaceApp! Bagaimana dengan Aplikasi Lokal yang Menverifikasi Akun Via KTP
FaceApp
Foto Donald Trump dan Steve Jobs diedit di FaceApp 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Selama beberapa hari terakhir, tantangan #AgeChallenge dari aplikasi wajah tua FaceApp menjadi perhatian publik. Pertama karena sedang viral dan diikuti oleh banyak selebriti. Kedua karena bahayanya.

Dilaporkan oleh Kompas.com, Jumat (19/7/2019); Executive Director SAFEnet, Damar Juniarto berkata bahwa masalah sebenarnya dari FaceApp adalah ketidaktahuan kita mengenai risiko dari memberikan data-data pribadi ke FaceApp.

Pasalnya, aplikasi tersebut mampu membaca biometrik wajah dan menyimpan data-data kita ke dalam repository-nya. Selain itu, pemberian akses ke data nomor telepon, folder gambar dan dokumen rupanya juga memberikan FaceApp akses ke banyak informasi lainnya, seperti akses ke e-banking, akses ke email, nomer telepon keluarga, teman, sahabat.

Namun, apakah kita hanya perlu waswas terhadap FaceApp? Bagaimana dengan aplikasi lokal yang beberapa di antaranya menverifikasi akun dengan KTP dan foto wajah?

Baca: VIDEO VIRAL Anjing Ini Menangis dan Menolak Pergi Lalu Menancapkan Cakar Peti Mati Majikan

Baca: Kotak Susu Ibu Hamil Bukti Syahrini Berbadan Dua? Tak Sengaja Terekam Ipar Reino Barack, Aisyahrani

Baca: Benelli Punya Dua Motor Roadster Retro Terbaru di GIIAS 2019, Leoncino 250 dan Benelli 502C

Damar mengatakan kepada Kompas.com, Jumat (19/7/2019) bahwa kunci jawabannya ada pada tiga indikator, yakni sejauh mana perusahaan pembuat aplikasi memiliki komitmen, menghargai kebebasan berekspresi dan menghormati privasi.

Untuk aplikasi-aplikasi ternama di dunia, ada survei tahunan yang dilakukan oleh Ranking Digital Rights (RDR) berdasarkan ketiga indikator tersebut. Pada saat ini, Microsoft berada pada posisi pertama, Facebook pada posisi keempat dan Twitter kelima. Namun, aplikasi Indonesia tidak termasuk dalam survei tersebut.

Damar pun berkata bahwa penilaian berdasarkan tiga indikator terhadap aplikasi lokal harus dilakukan secara khusus dan independen. Namun, kita pun dapat menilai sendiri apakah aplikasi yang ingin kita gunakan memenuhi ketiganya.

Lalu, dalam konteks perlindungan privasi, Damar berkata bahwa yang sebetulnya harus dilindungi adalah martabat seseorang saat sedang berada di dunia virtual, bukan hanya sekedar data fisiknya. Bila melihat dari perspektif tersebut, maka pembicaraan perlindungan data akan menjadi lebih substantif.

“Ini yang kerap terjadi, menyebabkan pembahasan mengenai privasi online hanya sekedar data diperjualbelikan, tetapi tidak mengenai bagaimana data dipakai untuk memanipulasi pikiran, tingkah laku dan lain sebagainya,” ujarnya.

Terkait pemberian data pribadi kependudukan kepada aplikasi, Damar menilai bahwa itu tidak masalah asal digunakan sesuai maksudnya, yaitu pencatatan terkait pembukaan rekening keuangan. Hal ini memang terjadi dalam banyak bisnis, mulai dari uang elektronik hingga ride hailing seperti ojek online, karena ada uang yang terlibat di dalamnya.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved