Berita Internasional

17 Mata-mata Ditangkap, Iran Ungkap Jaringan CIA Berkat Bantuan Negara Asing Ini

Iran menyatakan, mereka bisa mengungkap jaringan mata-mata Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) berkat bantuan dari "negara asing".

17 Mata-mata Ditangkap, Iran Ungkap Jaringan CIA Berkat Bantuan Negara Asing Ini
shutterstock
Ilustrasi Agen CIA. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Iran menyatakan, mereka bisa mengungkap jaringan mata-mata Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) berkat bantuan dari "negara asing".

Kepala kontra-intelijen yang tak bersedia disebutkan namanya berkata, ada 17 terduga mata-mata AS yang ditangkap dari Maret 2018 hingga Maret 2019.

Diwartakan IRNA via AFP Senin (22/7/2019), intelijen Iran menyatakan mereka mengungkap adanya jaringan mata-mata yang berhubungan dengan CIA pada Juni lalu.

Pejabat intelijen mengungkapkan berdasarkan petunjuk yang mereka dapatkan, diketahui CIA melakukan perekrutan dan hendak membentuk jaringan baru.

Baca: LIVE TVRI - Jadwal Jepang Open 2019 Siaran Langsung TVRI : Marcus/Kevin, Jojo & Ahsan Hendra Main

Baca: Dampingi Penarikan Retribusi Pasar Ulin Raya, Kejari Banjarbaru Pulihkan Uang Negara Rp 1,8 Miliar

Baca: Hasil Barito Putera vs Persela Lamongan Liga 1 2019, Skor Sementara 0-0, Bahaya Serangan Balik

IRNA melaporkan negara pimpinan Ayatollah Ali Khamenei itu bekerja sama dengan "negara asing". Namun, mereka tidak bersedia menyebutkan negara mana yang dimaksud.

Dalam konferensi pers, kepala kontra-intelijen menjelaskan 17 orang yang ditangkap merupakan warga Iran yang masing-masing bertindak secara mandiri.

"Mereka yang ketahuan mengkhianati negara sudah dibawa ke pengadilan. Beberapa di antara mereka ada yang dijatuhi hukuman mati, ada yang hukuman penjara," ujar intelijen.

Para terduga agen rahasia direkrut oleh AS supaya mereka menyusul ke sektor penting dan sensitif ataupun umum dengan bekerja sebagai konsultan atau kontraktor.

Mereka disebut dipekerjakan melalui metode yang disebut "jebakan visa", yakni menggunakan visa yang digunakan oleh warga Iran ketika bepergian ke AS.

Teheran terlibat perseteruan panas dengan AS sejak Mei 2018, yakni tatkala Presiden Donald Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir 2015.

Washington kemudian membuat kebijakan dengan menerapkan sanksi kepada Iran, dan dibalas dengan pengayaan uranium melebihi kesepakatan dalam perjanjian 2015.

Juni lalu, Trump sempat membatalkan serangan udara yang diperintahkannya sendiri sebagai balasan setelah Iran mengumumkan sudah menembak jatuh drone AS.

Tensi kemudian berkembang ketika Marinir Inggris menyerbu kapal tanker super di perairan Gibraltar Juli ini karena diduga melanggar sanksi Uni Eropa.

Teheran melalui Garda Revolusi menanggapi dengan mengumumkan penangkapan kapal tanker berbendera Inggris di Selat Hormuz pada Jumat (19/7/2019).

Berita ini juga ada di KOMPAS.COM

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved