Ekonomi dan Bisnis

Batu Bara Masih Jadi Penyumbang Utama, Penambang Kalsel Andalkan Pasar Dalam Negeri

Perusahaan tambang yang memiliki lahan di kawasan kabupaten Banjar ini mengklaim terus beroperasi dengan produksi mencapai 1 juta metrik ton per tahun

Batu Bara Masih Jadi Penyumbang Utama, Penambang Kalsel Andalkan Pasar Dalam Negeri
banjarmasinpost.co.id/nurholishuda
Koordinasi Supervisi dan Pencegahan (Korsup) pencegahan Korwil VII KPK, Rosma Ali Yusuf (baju batik cokelat) saat cek reklamasi di Tambang dijalankan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Di saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti usaha pertambangan di Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan, sejumlah perusahaan tambang di Banua justru mengeluhkan harga batu bara di pasar dunia yang turun drastis sejak setahun terakhir. Sejumlah perusahaan memilih memasarkan produknya untuk kebutuhan dalam negeri.

Kondisi itu seperti disampaikan manajer perusahaan tambang PT Intan Karya Mandiri (IKM) Syamsudin kepada wartawan saat menerima kunjungan rombongan KPK dan dinas ESDM di lokasi tambangnya kawasan kabupaten Banjar.

Menurut Syamsudin harga yang berlaku saat ini Rp 290 ribu per ton, padahal setahun sebelumnya harga dapat mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 365 ribu per ton, sesuai kadar kalori batu bara yang ditawarkan.

Kondisi ini memaksa pihaknya melakukan penyesuaian agar tambang dapat terus beroperasi dan kar­yawan terus bekerja dengan lebih memprioritaskan penjualan batu bara untuk dalam negeri.

Baca: Kalsel Tanpa Batu Bara Sebagai Sumber Energi? Begini Alternatifnya Menurut Dinas ESDM

Baca: Pengawasan Tongkang Batu bara Diperketat Royalti Tambang Kalteng Meningkat, 2018 Capai Rp2 Triliun

Perusahaan tambang yang memiliki lahan di kawasan kabupaten Banjar ini mengklaim terus beroperasi dengan produksi mencapai 1 juta metrik ton per tahun. “Mudah mudahan harga jual ini nanti tinggi lagi dan mulai menggeliat lagi,” harap pria yang disapa Udin ini.

Dikatakannya perusahaan ini tidak dapat menyimpan terlalu lama cadangan atau stok batubara karena batu muda dapat dengan mudah terbakar serta kualitasnya yang akan semakin rendah.

Namun, berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor ke luar negeri untuk komoditas batu bara atau kelompok bahan bakar mineral, paling banyak dari Kalsel.

Kelompok barang utama penyumbang ekspor terbesar Kalimantan Selatan bulan Juni 2019 berdasarkan kode Harmonized System (HS) ada pada kelompok bahan bakar mineral (HS 27) dengan nilai US$525,71 juta. Nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 15,72 persen dibanding ekspor bulan Mei 2019 yang mencapai US$623,75 juta.

Baca: Tarif Parkir di Mitra Plaza Tidak Sesuai Ketentuan, Masuk Rp 5.000 Keluar Bayar Lagi Rp 2.000

Baca: Bank Mandiri Blokir 2.670 Rekening Nasabah, Pindahkan Saldo Tambahan ke Rekening Lain Saat IT Error

Sementara itu, di urutan kedua adalah kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) yang menyumbang ekspor dengan nilai US$70,24 juta yang mengalami kenaikan sebesar 24,04 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Diketahui, untuk memastikan jaminan reklamasi pascatambang yang dilakukan pemegang izin usaha pertambangan (IUP), Bidang Koordinasi Supervisi dan Pencegahan (Korsupgah) Wilayah VII Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama empat hari mengecek ke beberapa daerah di Kalsel. (banjarmasinpost.co.id/lis)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved