Jendela

Haji-Umrah Itu Sendiri

Setiap Muslim, lebih khusus lagi orang Banjar, jika sudah sampai di Saudi Arabia, hal pertama yang terbayang adalah melaksanakan haji atau umrah.

Haji-Umrah Itu Sendiri
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - JUM’AT, 12 April 2019. Sore itu, saya duduk sendirian di sebuah restoran yang terletak di Grand Zamzam yang menjulang, persis di depan Masjidil Haram, Kota Makkah. Kali ini, saya benar-benar sendiri. Tak ada seorang pun yang menemani, meski di sekitar saya ada jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.

Wajar jika ketika itu saya teringat keluarga. Saya lantas meminta bantuan seorang petugas kebersihan untuk memotret saya dengan ponsel. Pria muda berwajah Pakistan itu, tanpa banyak bicara, segera memotret saya. Usai dipotret, foto itu segera saya kirim ke istri. “Alhamdulillah, umrah sudah selesai,” tulisku lewat WhatsApp. Tak lama, istri pun menerima foto dan pesan itu dengan penuh syukur.

Saya terus menyantap makanan yang baru saja saya beli. Saat tengah asyik makan, tiba-tiba ada dua orang Indonesia, suami-istri, menegur saya.

“Apakah boleh kami duduk di kursi depan meja Bapak?” kata si suami.

“Ya, tentu. Silakan,” kataku.

“Bapak umrah kan?” “Ya”.

“Kapan Bapak tiba di sini?”

“Baru tadi siang,”kataku.

“Kapan Bapak pulang?”

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved