Berita Banjarbaru

NEWSVIDEO Tingkat Kematian Ikan Nila di Keramba Jaring Apung di Karangintan Capai 70 Persen

Ikan nila yang dibudidayakan di Keramba jaring Apung (KJA) alami kematian setiap harinya di Karangintan, Kabupaten Banjar.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ikan nila yang dibudidayakan di Keramba jaring Apung (KJA) alami kematian setiap harinya di Karangintan, Kabupaten Banjar. Jumlahnya terus bertambah bahkan merugi hingga ribuan ekor ikan yang mati.

Ikan nila pun alami kenaikan harga bahkan dikeluhkan masyarakat bisa saja sampai kehabisan di pasar. Di tingkat pembibitan pun ada penurunan permintaan.

Seperti yang dialami Hairi Dani, seorang pengelola budidaya Ikan Nila Keramba jaring Apung (KJA). Pagi itu, ketika ditemui di Batu Kambing Desa Awang Bangkal Barat Kecamatan Karang Intan dia tengah memberi pakan ikan. Kesibukannya makin bertambah karena dia harus membersihkan kolam dari ikan nila yang sudah membusuk dan mengapung.

Dia mengeluhkan hampir tiap hari ada menemukan ikan nila mati membusuk dalam beragam ukuran. " Ikan nila paling beresiko tingkat kematian 70 persen, terutama ikan nila yang masih bibit. Ini ada 13 ribu bibit ikan nila, paling 5000 saja yang sanggup bertahan sampai besar," katanya, Senin (22/7/2019).

Baca: Nama Artis Lain Diungkap Nunung di Kasus Narkoba yang Juga Libatkan Suaminya, Iyan Sambiran

Baca: Kode Baru Luna Maya dan Faisal Nasimuddin Posting Ini di Instagram Jelang Agustus

Baca: Begini Alur Dana Hibah KONI Banjarbaru yang Ditelisik Kejari Banjarbaru, Kasusnya Naik Kepenyidikan

Menurut dia penyebab dari banyaknya ikan nila mati ini karena faktor musim dan kondisi air akibat suhu kemarau yang panas. " Ikan nila mati dimasukan saja ke kolam ikan bawal, kalau dilarutkan ke sungai nanti khawatir malah makin mencemari ikan di keramba lain," katanya.

Sudah delapan tahun dia kelola budidaya ikan. Kini cuma pasrah tiap hari menemukan ikan mati. " Kemarin satu ember penuh ikan nila mati semua. Setiap hari ada saja. Apalagi ikan nila yang baru berumur satu Minggu sejak dari bibit rentan sekali alami kematian," katanya.

Situasi merugikan ini tidak hanya dirasakan oleh para pembudidaya ikan keramba di kawasan Batu kambing tapi juga di Desa Tiwingan lama. Pembudidaya ikan keramba di Waduk Riam kanan juga mengeluhkan ikan nila banyak mati.

Hadianor, satu dari ratusan pembudidaya ikan keramba di Tiwingan lama Waduk riam kanan ini juga mengatakan jenis ikan nila yang paling banyak alami kematian. Menurut pemikiran dia situasi ini akibat pengaruh suhu yang terlalu panas.

" ulun biasanya satu jala apung menebar 10 ribu bibit mas, tingkat kematiannya hampir 70 persen, jadi yang hidup sampai dijual itu paling banyak tiga ribu ekor aja lagi. Itu semua ikan nila. Kalau ikan mas masih bisa hidup 60 persen," kata dia.

Kondisi ini dia alami sudah sejak beberapa bulan terakhir ini dan hingga saat ini masih terjadi. Dia mengatakan di Desa Tiwingan lama ada sekitar 150 petani ikan , dan mayoritas mengeluhkan banyaknya ikan nila yang alami kematian dan membusuk.(banjarmasinpost.co.id/Nia Kurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved