BFOCUS ECONOMIC

Pemain Bisnis Ojek Online Lama Perlu Atur Strategi

Tetapi kekuatan modal pendatang baru harus kuat, karena dengan keterbatasan driver mereka harus memberikan daya tarik

Pemain Bisnis Ojek Online Lama Perlu Atur Strategi
Banjarmasinpost.co.id/Nia kurniawan
Dua driver Kulir.jasabanjar siap melaksanakan tugas. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM, Handry Imansyah, ojek online saat ini hanya dua. Dulu ada tiga, satu produk lokal yaitu Gojek dan dua asing yaitu Grab produk Malaysia dan Uber produk Amerika Serikat. Artinya aplikasi transportasi daring (online) tersebut berasal dari negara tersebut.

Namun, ojek daring adalah asli produk Indonesia. Karena Gojek diawali dari aplikasi tansportasi sepeda motor. Sedangkan Grab dan Uber di tempat asalnya hanya aplikasi daring untuk mobil. Namun, ketika masuk Indonesia, mereka juga memasuki transportasi sepeda motor.

Uber pun tidak dapat bertahan dengan persaingan transportasi online yang ketat, sehingga Uber diakuisisi oleh Grab. Sekarang hadir Maxim, pengaruh dari Maxim aplikasi transportasi daring yang baru dari Rusia ini belum bisa dilihat dalam jangka pendek.

Namun dengan penetapan harga yang lebih murah dari pendatang baru pasti memberikan efek untuk menjaring konsumen baru. Tetapi kekuatan modal pendatang baru harus kuat, karena dengan keterbatasan driver mereka harus memberikan daya tarik dari konsumen dan calon driver.

Konsumen cari harga lebih murah sedangkan driver harus mendapatkan lebih dari setiap penumpang yang diantar. Jadi perusahaan baru mesti berani mendapatkan margin yang tipis bahkan bisa jadi jual impas atau bahkan rugi dalam jangka pendek untuk mendapatkan konsumen baru dan driver baru.

Sedangkan produk lokal Banjarmasin sebenarnya pernah ada yaitu Bangjek, namun tidak kuat bersaing juga dengan Gojek. Jadi bila menurut awalnya, produk yang domestik adalah hanya Gojek. Namun dalam perjalanan selanjutnya Gojek juga membutuhkan investor asing. Karena perusahaan start up bidang teknologi ini sangat padat modal.

Tingkat persaingan ada pada penggunaan teknologi yang makin canggih sehingga membutuhkan investasi besar untuk pengembangan teknologi. Bagi ojek daring yang sudah ada, prospek memang akan ada potensi terganggu. Namun, dengan kelebihan jumlah driver yang sudah banyak dan dukungan aplikasi yang mungkin lebih mudah, kekuatan ini akan mudah menghalangi pendatang baru Maxim.

Apalagi jika pemain lama tahu bahwa pendatang baru menggunakan predatory price maka tinggal siapa yang lebih kuat modal dan lebih banyak drivernya akan memenangkan persaingan.

Karena pemain lama akan bisa melayani perang harga, dengan kekuatan modal dan lebih banyak driver. Jadi dari sisi konsumen, datangnya pemain baru akan menguntungkan konsumen karena lebih murah.

Tetapi bila driver terbatas, maka waktu tunggu untuk dilayani juga lebih lama. Maka jargon ada harga ada rupa akan berlaku. Murah tapi lama. Mahal dikit tapi cepat. Konsumen akan menentukan mana yang mereka pilih tergantung koantongnya dan urgensinya dalam menggunakan ojek online.

Baca beritanya di Banjarmasin Post edisi Selasa (23/7/2019). (*)

Editor: Anjar Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved