Pembangunan Jembatan Alalak

Pengalihan Arus Lalu Lintas Memicu Protes Warga Sungai Miai hingga Pasang Spanduk ini

Pengalihan arus lalu lintas pembangunan Jembatan Sungai Alalak, Kayu Tangi Ujung penghubung Banjarmasin dan Kabupaten Batola, akhirnya memicu protes

Pengalihan Arus Lalu Lintas Memicu Protes Warga Sungai Miai hingga Pasang Spanduk ini
BPost Cetak
Blitz edisi cetak Senin (22/7/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pengalihan arus lalu lintas pembangunan Jembatan Sungai Alalak, Kayu Tangi Ujung penghubung Banjarmasin dan Kabupaten Batola, akhirnya memicu protes dari warga RT 22, 44, 45 dan 46 Kelurahan Sungai Miai, Banjarmasin Utara.

Pantuan BPost, Minggu (21/7), di pinggir Jalan Simpang Adhiyaksa Banjarmasin Utara dan di depan pasar kawasan setempat terpasang spanduk bertuliskan “Jalan Dua Arah Roda Dua Untuk Warga RT 22, 44, 45 dan 46".

Padahal, jalan tersebut ditetapkan sebagai jalan satu arah untuk jalan alternatif penutupan Jembatan Sungai Alalak I atau Jembatan Kayu Tangi Ujung.

Terkait masalah ini, Kabid Lalulintas Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, Slamet Bejo, membenarkan adanya spanduk bertuliskan “Jalan Dua Arah Roda Dua Untuk Warga RT 22, 44, 45 dan 46".

Baca: Putri Ayu Ting Ting, Bilqis Rentan Depresi? Simak 17 Dampak Psikologis Anak Hidup Tanpa Sosok Ayah

Baca: Daftar Sumber Kekayaan Ibu Nagita Slavina, Rieta Hingga Mertua Raffi Ahmad Miliki Kartu Miliarder

Baca: Pengakuan Barbie Kumalasari, Istri Galih Ginanjar Soal Kebohongan Rumah, Ijazah Hingga Toko Berlian

Baca: Kotak Susu Jadi Bukti Kehamilan Syahrini? Sosok Ini Prediksi Istri Reino Barack Segera Punya Anak

“Iya memang ada spanduk tersebut. Spanduk itu dipasang atas inisiatif dari warga di empat RT tersebut, bukan dari dinas perhubungan,” katanya.

Menurut Slamet, munculnya masalah ini sebenarnya sudah ada sejak rapat forum lalu lintas yang pernah dihadiri warga setempat.

Dalam rapat tersebut, warga empat RT itu minta dibuatkan jalan melawan arus (contraflow) atau sistem pengaturan lalu lintas yang mengubah arah normal arus kendaraan pada suatu jalan raya.

“Alasan warga minta dibuatkan contraflow karena warga harus berputar jauh saat mengantar anak sekolah dan pergi ke pasar. Padahal jika warga melawan arus, maka untuk mencapai sekolah dan pasar sangat dekat,” katanya.

Permintaan warga, sambung Slamet, belum bisa dipenuhi karena kondisi jalan di Banjarmasin sempit dan tidak ada jalan alternatif lainnya.

Berbeda dengan di kota besar lainnya di luar Kalimantan bisa dibuat contraflow karena sistem jaringan jalannya banyak dan lebar.

“Melawan arus juga mengadung risiko kecelakaan dari warga. Untuk itu warga harus sangat berhati-hati,” katanya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved