Ekonomi dan Bisnis

BI Sebut Utang Luar Negeri Jadi Sumber Pembiayaan Terbesar Kedua Ekonomi RI, Segini Jumlahnya

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan Indonesia masih butuh Utang Luar Negeri (ULN).

BI Sebut Utang Luar Negeri Jadi Sumber Pembiayaan Terbesar Kedua Ekonomi RI, Segini Jumlahnya
FIKA NURUL ULYA
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/7/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan Indonesia masih butuh Utang Luar Negeri (ULN). Pasalnya, Utang Luar Negeri Indonesia menjadi sumber pembiayaan terbesar kedua pada perekonomian setelah kredit bank umum.

"Jadi bisa enggak negara ini hidup tanpa ULN? Indonesia memang masih membutuhkan ULN, tapi ULN ini mesti dikelola secara hati-hati," kata Mirza Adityaswara dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Mirza memaparkan, berdasarkan data Bank Indonesia per Juni 2019, pembiayaan perekonomian Indonesia dari ULN telah tumbuh sekitar Rp 2.133 triliun dari total Rp 9.093 triliun. Pertumbuhan ini melambat jadi 10,5 persen yoy dari 14,5 persen yoy.

Meski melambat, ULN tetap menjadi sumber pembiayaan terbesar kedua. Hal ini membuktikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang pembiayaan dari ULN.

Baca: Digugat Rp 100 Miliar! Baim Wong Blak-blakan Jelaskan, Suami Paula Verhoeven Sebut Nama Surya Paloh

Baca: Pemain Muda Ini Bikin Terkejut Indra Sjafri, Padahal Baru Dipanggil untuk Timnas U-23 Indonesia

Baca: Gara-gara Alasan Konyol Ini, Mantan rekan setim Diego Maradona Tolak Pelung Emas di Real Madrid

Sementara, sumber pendanaan dari kredit bank umum tercatat sebesar Rp 5.228 triliun. Selain dua sumber tersebut, pembiayaan perekonomian juga bersumber dari pasar modal, industri keuangan non-bank, kredit BPR, dan teknologi finansial.

Berdasarkan data yang dipaparkan Mirza, pasar modal mampu menyumbang Rp 922 triliun diikuti oleh industri keuangan non-bank sebesar Rp 698 triliun, kredit BPR Rp 105 triliun, dan tekfin Rp 8,3 triliun.

Mirza mengatakan, tekfin menjadi sumber pembiayaan perekonomian karena pertumbuhannya tercatat pesat mencapai 274 persen yoy pada Juni 2019, bahkan tercepat ketimbang kredit bank umum yang hanya 10,05 persen.

Alasannya, kata Mirza, masih banyak masyarakat yang memang belum tersentuh industri perbankan (unbankable). Tekfin pun menjadi incaran meski bunganya relatif lebih besar ketimbang bunga bank.

"Walaupun bunganya tinggi tapi masih banyak masyarakat yang butuh kredit karena belum terjangkau oleh sistem perbankan kita," katanya.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved