Berita Internasional

Biro Investigasi Federal AS Sebut Rusia Masih Jadi Ancaman Pemilu Presiden AS 2020

Biro Investigasi Federal AS (FBI) menilai Rusia masih merupakan ancaman bagi pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2020 mendatang.

Biro Investigasi Federal AS Sebut Rusia Masih Jadi Ancaman Pemilu Presiden AS 2020
AFP / SAUL LOEB
Direktur FBI Christopher Wray. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, WASHINGTON - Biro Investigasi Federal AS (FBI) menilai Rusia masih merupakan ancaman bagi pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2020 mendatang.

Disampaikan Direktur FBI Christopher Wray, Moskwa masih berniat untuk mengganggu jalannya pemilihan presiden yang akan dilangsungkan 16 bulan mendatang.

"Rusia benar-benar berniat mencoba mengganggu jalannya pemilihan. Menurut pandangan saya, hingga mereka berhenti, mereka belum cukup terhalangi," ujar Wray di hadapan Komite Kehakiman Senat, Selasa (23/7/2019).

Investigasi yang dilakukan intelijen dan penasihat khusus AS Robert Mueller mengklaim telah mendokumentasikan secara luas upaya intelijen dan grup media sosial Rusia untuk membantu Donald Trump dan menghalangi kandidat Demokrat Hillary Clinton dalam pemilihan presiden pada 2016.

Baca: Miris! Jasad Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Ini Sudah Dibuang 2 Hari Lalu ke Kali, Pelakunya?

Baca: Perubahan Hidup Ahok BTP Setelah Nikahi Puput Nastiti Devi Pasca Ceraikan Veronica Tan

Baca: Perdebatan Luna Maya dan Ariel NOAH Saat Dipertemukan oleh Raffi Ahmad dan Nagita Slavina

Laporan Mueller yang dirilis April lalu, disebut mendokumentasikan upaya ekstensif oleh kampanye Trump untuk bekerja sama dengan Rusia dalam meningkatkan peluang kemenangannya.

Dengan Mueller dijadwalkan untuk bersaksi di hadapan Kongres AS tentang penyelidikan berisiko tinggi, pada Rabu (24/7/2019), Trump masih terus menyangkal keterlibatan Rusia dalam kemenangannya dalam pemilihan presiden.

Dalam sebuah pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, pada Juli 2018, Trump mengatakan pihaknya menerima pernyataan Kremlin yang menolak tuduhan telah campur tangan dalam pemilu AS 2016.

Trump pada gilirannya juga menolak kesimpulan yang diberikan intelijen AS.

"Saya sangat percaya dengan orang-orang intelijen saya, tetapi saya akan memberi tahu Anda bahwa Presiden Putin sangat tegas dalam menyatakan penolakannya hari ini," ujar Trump saat itu.

Bulan lalu, dalam pertemuan empat mata di sela-sela konferensi G20 di Osaka, Jepang, Trump dengan setengah bercanda kembali mengecilkan isu campur tangan Rusia dalam pemilihan 2016.

Bertemu dan duduk di samping Putin, Trump mengibaskan jarinya sambil mengatakan, "Jangan ikut campur dalam pemilihan presiden. Jangan ikut campur".

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved