Tajuk

Kemarau dan Pompa Air

Dampak yang dirasakan warga Kalsel saat ini adalah kebakaran lahan dan hutan, penurunan produksi perkebunan dan pertanian.

Kemarau dan Pompa Air
istimewa
Beberapa petani di Kecamatan Astambul memeriksa tanaman jeruk mereka yang terserang hama penyakit dan dilanda kekeringan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEKERINGAN melanda sejumlah daerah, termasuk Provinsi Kalsel dan Kalteng. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat Jakarta jauh-jauh hari sudah memprediksi wilayah-wilayah yang memasuki musim kemarau, sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi terjadi sejak Mei lalu.

Kemudian Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua masuk awal musim kemarau pada Juni lalu. Secara umum, puncak musim kemarau pada tahun ini diprediksi akan terjadi antara Agustus-September 2019.

Sementara dampak yang dirasakan warga Kalsel saat ini adalah kebakaran lahan dan hutan, penurunan produksi perkebunan dan pertanian. Sebagaimana peringatan dini BMKG Kalsel bahwa Kalsel akan terjadi cuaca ekstrem dan hujan lebat yang disertai kilat atau petir hingga angin kencang. Tiga daerah yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem adalah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanahbumbu dan Kotabaru. Potensi cuaca ekstrem terjadi dari minggu ini hingga akhir Juni.

Untuk di Kabupaten Banjar, petani jeruk di Kecamatan Astambul mengalami keresahan karena penurunan kualitas produksi perkebunan mereka sudah berjalan dua pekan ini. Sementara itu petani jagung di Kabupaten Tanahlaut juga resah karena serangan hama (BPost Edisi Minggu 28/7/2019).

Memang saat ini banyak pedagang jeruk mangkal di tepi Jalan A Yani seiring tibanya musim panen. Namun menurut sejumlah petani, panen Jeruk Siam Banjar tak sebaik sebelumnya. Selain jumlah, ukuran buahnya kurang besar dan kadar air pun kurang sehingga memengaruhi cita rasa.

Penurunan kualitas jeruk itu disebabkan serangan hama dan penyakit. Selain itu panasnya cuaca selama beberapa pekan ini kian memperburuk fase generatif tanaman jeruk.

Untuk mengantisipasi dampak kerugian yang lebih besar lagi para petani memang harus melakukan pencegahan atau setidaknya memperkecil risiko kerugian akibat penurunan produksi atau bahkan kegagalan panen. Paling utama adalah upaya menjamin ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang dibudidayakan. Pasalnya saat kemarau kelembaban menjadi susut drastis sehingga lahan menjadi cepat kering.

Langkah yang perlu dilakukan di antaranya menyiapkan pompa air, sumur, penampungan air, dan pengaturan sistem irigasi. Upaya ini juga harus didukung secara teknis oleh pemerintah melalui instansi terkait. Sistem irigasi sebenarnya jawaban yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan air di musim kemarau.

Cuma tidak semua lahan pertanian di Kalimantan Selatan terjangkau oleh pengairan irigasi. Oleh karena itu pompanisasi air dan penggalakan pembuatan sumur pompa penting dilakukan karena upaya ini juga bisa meminimalkan dampak negatif musim kemarau terhadap produktivitas pertanian, sekaligus untuk kebakaran lahan.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved