Opini Publik

Mewaspadai Ancaman Virus Ikan Karantina

Provinsi Kalimantan Selatan yang terdiri atas 13 kabupaten/kota memiliki potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang cukup besar.

Mewaspadai Ancaman Virus Ikan Karantina
net
udang

Oleh: NUR’AINI MUSLIMAH SPI
Analis Laboratorium Balai KIPM Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Provinsi Kalimantan Selatan yang terdiri atas 13 kabupaten/kota memiliki potensi sumber daya perikanan dan kelautan yang cukup besar. Sumber daya perikanan dan kelautan yang cukup potensial itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat.

Hal ini ditunjang oleh faktor geografis yang cukup mendukung yaitu tersedianya sumber air yang cukup untuk usaha budidaya perikanan.

Begitu juga dengan hasil perikanan lautnya yang cukup beragam dan memungkinkan untuk dilakukan upaya pelestarian melalui kegiatan budidaya perikanan. Pengelolaan sumberdaya perikanan yang dilakukan dengan memperhatikan aspek kontinuitas, maka ketersediaan protein hewani juga akan selalu tersedia.

Munculnya wabah penyakit ikan baru yang telah menghancurkan industri udang di negara-negara kawasan Asia Pasifik, makin menambah berat tugas Badan Karantina Ikan Pengendaliam Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan dalam mengantisipasi masuknya penyakit ikan berbahaya melalui komoditas perikanan yang masuk ke dalam Wilayah Negara Indonesia. Atau pun dari antar area di wilayah Republik Indonesia, yang tersebar diantara gugusan kepulauan yang ada.

Begitu juga dengan pembudidaya ikan atau udang yang ada di Indonesia, terkena dampak dari berbagai serangan Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK). Kematian ikan atau pun udang yang mendadak dalam waktu yang sangat cepat, juga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, yang berimbas kepada perputaran perekonomian khususnya pembudidaya ataupun petani ikan.

Usaha peningkatan pengawasan dan teknik diagnosa terhadap pemeriksaan sebagai upaya mencegah masuk dan tersebarnya penyakit ikan karantina, tentunya harus ditingkatkan baik dengan metode ataupun dengan peralatan yang lebih efektif dan selektif tentunya. Sehingga akan mendapatkan akurasi hasil yang diinginkan.

Upaya melindungi dan mencegah masuk serta tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina (HPIK) antar area dan khususnya dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia menjadi tugas dan fungsi yang harus diemban oleh Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM). Sebagai salah satu UPT yang merupakan bagian dari BKIPM maka Balai KIPM Banjarmasin menjalankan tugas dan fungsi itu di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan.

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 91/KEPMEN-KP/2018 tentang Penetapan Jenis-jenis Hama dan Penyakit Ikan Karantina, Golongan, Media Pembawa dan Sebarannya dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indinesia Nomor 58/KEPMEN-KP/2016 tentang status Area Tidak Bebas Penyakit Ikan Karantina Di Wilayah Negara Republik Indonesia. Yang menjadikan dasar kebijikan terhadap pengendalian HPIK yang ada di Wilayah Republik Indonesia.

Di dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indinesia Nomor 58/KEPMEN-KP/2016 tentang status Area Tidak Bebas Penyakit Ikan Karantina Di Wilayah Negara Republik Indonesia, ada beberapa jenis virus yang termasuk Hama Penyakit Ikan Karantina yang sudah positif atau sudah ada di Kalimantan Selatan, yaitu White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Hypodermal and Haetopoietic Necrosis Virus (IHHNV) dan Koi Harpes Virus (KHV).

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved