Berita HSS

Ancaman Bagi Penangkap Ikan Ilegal di HSS, Bila Tertangkap Masuk Penjara & Denda Hingga Rp 1 Miliar

Musim kemarau merupakan masa panen ikan di alam liar perairan rawa. Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, selain wilayah Daha, yaitu Daha Utara

Ancaman Bagi Penangkap Ikan Ilegal di HSS, Bila Tertangkap Masuk Penjara & Denda Hingga Rp 1 Miliar
Dinas Perikanan untuk Banjarmasinpost.co.id
Mengantisipasi aksi penyetruman di masa ‘emas’ atau di musim penangkapan ikan tersebut, Pemkab HSS, melalui Dinas Perikanan pun mengeluarkan peringatan dan imbauan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Musim kemarau merupakan masa panen ikan di alam liar perairan rawa. Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, selain wilayah Daha, yaitu Daha Utara, Daha Selatan dan Daha Barat, wilayah lumbung ikan air tawar lainnya adalah Danau Bangkau yang masuk Kecamatan Kandangan.

Mengantisipasi aksi penyetruman di masa ‘emas’ atau di musim penangkapan ikan tersebut, Pemkab HSS, melalui Dinas Perikanan pun mengeluarkan peringatan dan imbauan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten HSS, Fadmadiansyah kepada banjarmasinpost.co.id, Rabu (31/7/2019) menjelaskan, meski tingkat penyetruman sudah berkurang sejak penempatan Polair di Pos Pantau Danau Bangkau, saat musim kemarau biasanya masih ada oknum warga yang melakukan penangkapan ikan secara illegal menggunakan perangkat setrum yang dengan tenaga accu.

Untuk itu, Bupati HSS mengeluarkan surat imbauan Nomor 523.32/125/Diskan agar para nelayan se-HSS, jika menangkap ikan hanya menggunakan alat tradisional demi menjaga kelestarian lingkungan. Juga agar produksi ikan tangkap tak terganggu produksinya.

Baca: Sejuta ASN Bakal Padati Pulau Kalimantan, Pemindahan Ibu Kota Diumumkan Agustus

Baca: Isi Surat Galih Ginanjar ke Fairuz A Rafiq Dibocorkan Barbie Kumalasari, Sikap Istri Sonny Septian?

Baca: Berlagak Tajir untuk Menipu? Modus Suami Rey Utami, Pablo Benua dalam Kasus Penipuan Diungkap Polisi

Dinas Perikanan, melalui surat Bupati yang ditandatatangani Wakil Bupati HSS Syamsuri Arsyad, mengimbau masyarakat yang memilki alat setrum dan sejenisnya, agar menyerahkan secara suka rela dan kesadaran menaati aturan menyerahkan alat setrum tersebut.

“Menyerahkannya kepada kepala desa atau lurah, Bhabinkamtibmas, atau Polsek terdekat di wilayah masing-masing dalam waktu secepatnya. Sebab, jika tidakmenyerahkan secara sukarela, lalu tertangkap tangan memiliki, menguasai, memproduksi dan membawa alat setrum tersebut dan menggunakannya untuk mennagkap ikan, bakal diproses secara hukum,” kata Fadmadianyah.

Disebutkan, ancaman hukuman maksimal untuk tindak pidana tersebut, adalah kurungan maksimal enam bulan, atau denda Rp 50 juta, sebagaimana diatur Peda Nomor 17 Tahun 2005 tentang Perlindungan Sumber Daya Ikan, dan Larangan Penangkapan Ikan dengan Alat Setrum dan Potas atau sejenisnya.

Selain ancaman pidana berdasarkan Perda, jika kegiatan penangkapan secara illegal membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan, berlaku Undang Undang Nomor 31 Tahun 20013 junto UU RI Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan.

Pasal yang dikenakan, yaitu pasal 84 dan 85 UU Nomor 31/2003 dengan ancaman pidana maksimal enam tahun serta denda Rp 1 Miliar 200 Ribu.

Dikatakan,adanya patroli rutin yang dilakukan Polisi Perairan dari Polda Kalsel di Danau Bangkau yang didukung dua unit speedboot selama ini, mengurangi keresahan masyarakat atas maraknya penyetruman. Meski demikian, penyetruman masih ada dan dilakukan secara sembunyi dan mereka pandai membaca situasi.

Sementara, mengatasi masih adanya penyetruman ikan, Pemkab HSS bakal melaksanakan program ikan keramba atau peternakan yang disesuaikan dengan lingkungan masyarakat nelayan, dengan tetap mendengarkan aspirasi para nelayan terkait bidang usaha yang mereka minati, untuk menambah penghasilan, selain menangkap ikan dengan cara tak melanggar hukum.

“Anggarannya diakomodasi pada APBD Perubahan 2019, yang saat ini masih dibahas di DPRD. Juga bakal dukung dana desa untuk kegiatan ekonomi produktif,” kata Fadmadiansyah.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved