Opini Publik

Mungkinkah Gelombang Panas Melanda Indonesia?

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, ada beberapa wilayah yang tidak mengalami musim kemarau

Mungkinkah Gelombang Panas Melanda Indonesia?
Istimewa
kepanasan minum air putih 

Oleh: Yosef Luky DP SST, Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Banjarbaru

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, ada beberapa wilayah yang tidak mengalami musim kemarau karena faktor topografi dan pola curah hujan yang berbeda dengan wilayah yang sudah mengalami musim kemarau.

Di bagian selatan wilayah Indonesia seperti Jawa, Bali, NTT, dan NTB bahkan sudah tidak hujan lebih dari 3 bulan. BPBD Kab/kota di beberapa wilayah juga sudah mulai menetapkan darurat siaga kebakaran hutan dan lahan.

Informasi yang disampaikan oleh KemenLHK dan BMKG bahwa ada beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan yang sudah mulai dideteksi munculnya hotspot/titik panas. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius pemerintah karena hotspot merupakan salah satu tanda awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Puncak musim kemarau tahun 2019 diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus-September 2019. Musim kemarau tahun ini diprediksi normal, namun pemerintah harus tetap waspada terhadap perubahan-perubahan alam yang sering terjadi secara tiba-tiba, sehingga kejadian seperti tahun 2015 dapat diantisipasi.

Sama halnya dengan wilayah Indonesia, di belahan bumi yang lain seperti di Eropa saat ini juga sedang mengalami musim panas. Musim panas yang terjadi tahun ini di Eropa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, musim panas tahun ini diprediksi akan menjadi musim panas yang paling panas dalam sejarah yang ada.

Beberapa negara seperti Perancis, Inggris, dan Jerman mengeluarkan peringatan bahwa negara mereka akan mengalami suhu mencapai 42-44 derajat celcius. Khalayak di sebagian wilayah Eropa mengalami panas terik ketika gelombang panas dalam dua bulan terakhir memecahkan rekor suhu tertinggi.

Akibat gelombang panas kali ini, seperti kejadian serupa pada Juni lalu, menyebabkan kebakaran hutan, membengkoknya rel kereta, hingga memunculkan peringatan soal kualitas udara dan kekurangan air.
Bulan lalu, Perancis mencatat suhu paling tinggi sepanjang masa, yaitu 46°C. Pada periode yang sama rekor juga dipecahkan di Republik Ceko, Slowakia, Austria, Andorra, Luxemburg, Polandia, dan Jerman.

Kebakaran yang mematikan telah menghancurkan desa-desa pesisir di Yunani dan menewaskan lebih dari 80 jiwa. Bahkan negara-negara di utara seperti di Swedia dan Latvia juga sedang berlangsung upaya melawan kebakaran hutan. Api telah menyapu desa-desa di pesisir Yunani, tidak jauh dari Athena, menghancurkan segalanya di jalur yang mereka lalui. Ratusan orang melarikan diri ke laut untuk diselamatkan oleh perahu. Tim penyelamat sedang mencari para korban dan mayat di rumah-rumah di mana api telah dipadamkan.

Gelombang Panas, Mengapa Terjadi Sekarang?
Gelombang panas diartikan sebagai periode panas yang tidak biasa, umumnya lima derajat di atas suhu maksimal rata-rata harian yang berlangsung setidaknya tiga hari. Gelombang panas berhubungan erat dengan kelembaban dan kecepatan angin. Kelembapan dan keceptan angin dapat memperkuat gelombang panas, akibatnya akan terasa ekstrem di kota-kota besar lantaran banyaknya aktivitas manusia dan adanya gedung-gedung tinggi, jalan, dan beton.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved