Breaking News:

Berita Kabupaten Banjar

Cuaca Kian Panas, Warga Kampung Sungaitabuk Kabupaten Banjar Terpaksa Ambil Air Ini

Cuaca yang kian panas belakangan ini mulai merepotkan warga yang bermukim di Kampung Sungaitabuk, Desa Kiram, Kecamatan Karangintan.

banjarmasinpost.co.id/idda royani
KERING - Beginilah kondisi sumber air bersih di Kampung Sungaitabuk saat musim kemarau. Foto diambil pada pertengahan Oktober 2018. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Cuaca yang kian panas belakangan ini mulai merepotkan warga yang bermukim di Kampung Sungaitabuk, Desa Kiram, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sejak sekitar dua pekan lalu mereka mulai kesulitan mencari air bersih. Pasalnya, air bersih di tandon umum setempat susut drastis airnya. Sekadar diketahui, air di tandon tersebut terisi air bersih yang bersumber dari cekungan air di kaki pegunungan setempat.

Melalui pipa berukuran sekitar empat inci, air tersebut mengalir secara alami (gravitasi) ke tandon di permukiman Kampung Sungaitabuk yang berjarak sekitar satu kilometer.

Pantauan BPost Online saat kemarau tahun lalu, debit air di cekungan air di kaki pegunungan setempat memang terbatas karena cuma mengandalkan aliran air dari gunung. Karenanya saat kemarau pamjang juga selalu kering.

"Saat ini mungkin tinggal sedikit sehingga tak begitu ngalir lagi ke tandon. Cuma cukup untuk berwudu saja air di tandon itu," sebut Tony, ketua RT 02 Kampung Sungaitabuk, Kamis (01/08/2019).

Baca: Kerawanan Karhutla Meningkat, Kodim 1006 Martapura Siap Turunkan Personil Atasi Kebakaran Lahan

Baca: Dalam Ruang Kelas Penuh Kabut Asap, Aktivitas Belajar di Sekolah Ini Terpaksa Dihentikan

Lantaran air di tandon umum tersebut telah sangat menipis, lanjutnya, sebagian warga di kampungnya mulai mengambil air di sungai. Sebagian lagi memanfaatkan air sumur.

Mereka yang mengambil air di sungai, sebut Tony, dikarenakan tak punya sumur gali. "Sementara kalau minta air di sumur tetangga kan ada perasaan gak nyaman. Apalagi kan menyedot air sumur pakai mesin pompa air, artinya kan nyedot listrik," tandasnya.

Karena itu umumnya warga yang tak memiliki sumur gali terpaksa mengambil air sungai. Untung jaraknya tak terlalu jauh dari permukiman setempat, sekitar satengah kilometer. Warga biasanya mengambil air di bawah jembatan besi setempat.

"Air dari tandon sudah tak sampai (ngalir) lagi ke rumah saya. Jadi ya terpaksa ngambil air di sungai tiapnpagi," keluh beberapa warga Sungaitabuk.

Tony berharap pemerintah membantu menyediakan fasikitas air bersih di kampungnya. Apalagi jumlah penduduk setempat juga terus bertambah. "Sekarang sudah lebih dari 50 KK (kepala keluarga)," sebutnya.

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved