Fikrah

Merajut Takwa di Dunia

HIDUP orang beriman yang hakiki adalah hidup di akhirat, di dunia hendaklah mereka merajut bekal, itulah dia takwa

Merajut Takwa di Dunia
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Prov Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - HIDUP orang beriman yang hakiki adalah hidup di akhirat, di dunia hendaklah mereka merajut bekal, itulah dia takwa. Karenanya, begitu pentingnya takwa untuk kita rajut di dunia, dekat-jauhnya posisi kita disisi Allah SWT ditentukan oleh takwa “inna akramakum ‘indallaahi atqaakum,” sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. (QS.49/13).

Takwa secara etimologi berasal dari akar kata waqa-yaqi-wiqayah, artinya memelihara diri, secara terminologi berarti takut kepada Allah secara sadar mengerjakan perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya. Ibadah yang diperintahkan berujung membentuk takwa; puasa Ramadan diwajibkan la’allakum tattaquun, agar kamu bertakwa. (QS.2/183}, berkurban, yang sampai kepada Allah SWT bukan darah dan dagingnya tetapi takwa kalian,”lan yanaalallaaha luhuumuhaa wa laa dimaa’uhaa walaakin yanaaluhut-taqwaa minkum. (QS.22/37).

Dalam menata dan meniti kehidupan, pernahkah kita tafakkur, adakah berkah mau singgah di kehidupan kita sehingga kita tenteram, tidak mesti kaya, namun keperluan terpenuhi dan kita merasa cukup (qana’ah) akan anugerah Allah, tidak tamak, lalu berkeluh kesah dan tertutup hati beribadah. Seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW tentang kesulitan dirinya mencari rezeki, beliau bersabda, fa aina anta min tasbihil-malaaikati wastigfaaril-khalaa’iqi waa bihaa yurzaquun, amalkan seratus kali sesudah azan subuh dan salat, yaitu subhaanallaah wa bihamdih, subhaanalaahil-azhiim, astagfirullaah.

Adakah berkah turun di negeri kita? Walau anna ahlal-quraa aamanuu wat-taqaw lafatahnaa alaihim barakaatin minassamaa’i wal-ardhi, Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi... (QS.7/96).

Berkah adalah ziyadah (tambahan) atas nikmat yang Allah SWT anugerahkan, materinya atau kemanfaatannya. Berkah (berkat) adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Hilangnya berkah lewat orang-orang terhormat, yaitu ;
1. Para ulama pewaris nabi, fa idza kaanu liddiini wadhi’an walil-maali rafi’an fabiman yaqtadil-jaahilu, bila mereka mempermainkan agama dan tergiur harta, siapa lagi yang menjadi panutan umat.

2. Pasukan bersenjata dan alat negara adalah tentara Tuhan di bumi, wa idza kaanu thami’an muraa’iyaan fa kaifa yazdfaru bil-aduwwi, bila mereka silau dunia dan mabuk sanjungan, bagaimana bisa membela negeri.

3. Para ahli ibadah adalah bentengnya penghuni bumi, wa idzaa kaanaz-zaahidu fid-dun-yaa raagibaan fa biman yaqtadit-taa’ibu, bila mereka silau dengan dunia, kepada siapakah orang bersalah mencari panutan.

4. Para ekonom adalah bendahara Allah di muka bumi, wa idzaa kaanat-taajiru kha’inan fakaifa yahshulul-amaanah, apabila mereka curang, dimanakah lagi kejujuran didapat.

5. Para petugas adalah pagarnya umat, bila pagar menjadi serigala, kemana lagi mencari pengaman. (At-Tafsir al-Kabir, Ar-Razi,II/142).

Untuk meraih berkah kita perlu ilmunya para cerdik cendekia; bukan ilmu, ajaran dan petuah yang menyesatkan. Kita perlu keadilan para pemimpin dan penguasa; bukan pejabat dan pemimpin yang zalim, membebani umat dengan peraturan yang menyulitkan. Kita perlu doanya ahli ibadah ; bukan ibadah yang dililit riya dan menjilat. Kita perlu kejujuran pengusaha yang berusaha untuk membantu masyarakat; bukan pengusaha yang hanya meraup harta sehingga masyarakat kesulitan. Kita perlu kedisiplinan dan dedikasi petugas; bukan bekerja setengah hati.

Banjir besar terjadi pada masa Nabi Nuh AS. Ia membuat kapal besar. Sekitar 80-an umat beriman, segala jenis hewan sepasang-sepasang, yang liar dan jinak, unggas dan burung, yang melata menjadi penumpang kapal bertingkat tiga. Bekal disiapkan mencukupi dua bulan. Air baru surut setelah enam bulan. Tidak terjadi kelaparan karena semua penumpang taat aturan, harimau tidak memangsa kambing, kucing tidak menangkap tikus, ular tidak menggigit manusia. qiila yaa nuuhu ihbith bi salaamin minnaa wa barakaatin alaika wa alaa mimman ma’aka, “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat-sejahtera, penuh keberkahan dari Kami atasmu dan umat beriman dari mereka yang bersamamu...(QS.11/48).

Anda punya anak, bayangkan ia berjalan di atas jembatan. Tiba-tiba ia terjatuh ke dalam air, tenggelam dan meninggal. Bayangkan, jika terjatuhnya ke dalam lautan api ? Itu bisa terjadi di akhirat terjauh ke neraka (na’uzdu billah). Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS.66/6). muruuhum bimtitsaalil-awaamiri waj-tinaabinnawaahi, fa dzalika wiqaayatun lahum minannaar, Suruhlah anakmu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya itulah memelihara diri mereka dari neraka. (Ibnu Katsir). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved