Kekeringan Panjang Mengancam Kemarau Tahun ini, BMKG Ungkap Penyebabnya

Berbicara tentang kemarau, mungkin beberapa dari kita langsung mengaitkannya dengan kekeringan, kurang air, atau potensi kebakaran hutan dan lahan

Kekeringan Panjang Mengancam Kemarau Tahun ini, BMKG Ungkap Penyebabnya
NET
Ilustrasi 

BANJARMASIINPOST.CO.ID - Musim kemarau telah berlangsung selama beberapa minggu belakangan.

Dampak dari kemarau ini, sebagian wilayah Indonesia merasakan suhu dingin saat dini hari menjelang pagi, kemudian berganti menjadi panas menyengat sejak siang hingga sore hari.

Berbicara tentang kemarau, mungkin beberapa dari kita langsung mengaitkannya dengan kekeringan, kurang air, atau potensi kebakaran hutan dan lahan (kerhutla).

Lantas, bagaimana BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini? Menurut BMKG, kemungkinan besar kemarau tahun ini akan lebih lama dari biasanya, yang berarti akan memicu kekeringan lebih lama juga.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari mengatakan, ancaman kekeringan panjang pada musim kemarau tahun ini disebabkan oleh curah hujan yang terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dalam kategori rendah dibanding biasanya.

Baca: Akhirnya Deadpool Gabung Marvel Studios, Film Ryan Reynold Dipastikan Tak Berdarah Lagi?

Baca: Listrik Padam, Lakukan ini pada Bahan Makanan yang Disimpan dalam Kulkas

Baca: Ajakan Taaruf Pria Bule ke Aurel Bikin Ashanty Syok, Putri Anang Hermansyah & Krisdayanti Bereaksi

Baca: Peras dan Ancam Sebarkan Foto Vulgar Teman Dekat, Pria Sukses Raup Jutaan Rupiah

Untuk diketahui, meski Indonesia mengalami musim kemarau, beberapa daerah tetap mendapat curah hujan.

Beberapa daerah yang biasanya mengalami curah hujan rendah saat kemarau adalah daerah di selatan equator khatulistiwa.

Ini seperti Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara, serta Papua di sekitar Merauke.

"Ada beberapa indikator dinamika atmosfer yang menyebabkan curah hujan lebih rendah daripada biasanya," ujar Indra kepada Kompas.com.

Pertama, anomali atau simpangan terhadap rata-rata suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia masih terlihat negatif atau lebih rendah dari biasanya.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved