Opini Publik

Disrupsi Mobil Listrik

SEKITAR lima puluh persen populasi manusia di dunia tinggal di kota, ini tentunya menimbulkan berbagai permasalahan yang harus kita hadapi bersama

Disrupsi Mobil Listrik
TRIBUNNEWS.COM/FAJAR
Mobil listrik Nissan Leaf di Jepang 

Oleh: Ferry Irawan Kartasasmita, ASN Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEKITAR lima puluh persen populasi manusia di dunia tinggal di kota, ini tentunya menimbulkan berbagai permasalahan yang harus kita hadapi bersama, salah satunya adalah kemacetan. Kota-kota besar di Indonesia tengah merasakan masalah ini, terutama ketika waktu pagi dan petang ketika kita memulai dan mengakhiri aktivitas.

Dapatkah ini dicegah, untuk mendambakan kota yang bebas macet rasanya sulit selagi ego sektoral masih menggerogoti birokrasi kita, menyerahkan semua persoalaan kemacetan kepada institusi perhubungan, padahal akar dari kemacetan adalah terus bertambahnya kendaraan bermotor dan terus bertumbuhnya kota dengan kepadatan yang rendah dan menyebar (sprawling), merupakan ciri khas kota yang mengandalkan kendaraan pribadi dalam mobilitasnya setiap hari. Tata kota yang tak pernah benar-benar dikaji hingga periode puluhan hingga ratusan tahun, membuat perkembangan kota seperti dipasrahkan untuk dikelola oleh pengembang properti yang hanya melihat satu sisi, lokasi strategis, untung naik drastis.

Berdasarkan kajian Bappenas, dampak kemacetan di Jabodetabek menimbulkan kerugian 65 triliun rupiah setiap tahunnya. Kemacetan juga menimbulkan turunan masalahnya, pencemaran udara. Hasil dari pembakaran bahan bakar fosil menimbulkan emisi gas buang yang berbahaya bagi kesehatan. Kualitas udara Jakarta pada 25 Juni lalu menjadi terburuk di dunia menurut situs AirVisual. Hal ini menjadi peringatan bagi kota-kota besar di Indonesia yang mana pergerakan setiap harinya didominasi oleh kendaraan pribadi, karena 70 persen emisi pencemaran di kota konon bersumber dari sektor transportasi.

Mengatasi masalah kesehatan akibat emisi gas buang kendaraan, ke depan kita akan mengalami disrupsi baru di dunia otomotif, ketika pedati yang ditarik oleh kuda tergantikan setelah penemuan mesin uap. Begitupun ketika datangnya era digital informasi saat ini, disrupsi terjadi ketika ketenangan ojek pangkalan menanti penumpang tergantikan dengan dering notifikasi ojek online.

Tak menunggu waktu lama, era baru akan datang, kendaraan bermotor listrik akan menyemarakkan jalan-jalan di kota. Tentunya ini menjadi kabar gembira karena mobil listrik tidak mengeluarkan polutan pencemaran layaknya mobil konvensional berbahan bakar minyak. Penggunaan mobil listrik dengan basis baterai ini tentunya membuat udara perkotaan akan semakin lebih baik disamping perlunya pemerintah untuk menggalakkan penggunaan transportasi umum untuk masyarakat dengan meningkatkan sistem transportasi massal dan budaya berjalan kaki dan bersepeda dengan memperlebar pedestarian.

Mobil listrik juga memiliki keunggulan tidak menimbulkan polusi suara, untuk alasan keamanan di jalan raya Kementerian Perhubungan mensyaratkan mobil listrik harus memiliki ‘suara’ minimal 31 desibel.

Di samping itu mobil listrik ditengarai lebih hemat biaya bahan bakar, hal ini dikemukakan oleh Bluebird, perusahaan angkutan umum pertama di Indonesia yang menggunakan mobil listrik, untuk layanan bluebird menggunakan mobil BYD e6 dan Silverbird menggunakan Tesla Model X 75 D. Menurut pengakuan pengemudi senior taksi Bluebird pengeluaran untuk bahan bakar sebelumnya jika menggunakan BBM mencapai Rp 150 ribu per harinya, kini ia hanya membayar untuk kelistrikan antara Rp 80 ribu- Rp 100 ribu per hari.

Keunggulan lainnya dari mobil listrik adalah dari biaya perawatannya, hal ini karena tidak memerlukan pergantian pelumas, filter udara dan suku cadang tertentu seperti di mobil konvensional. Jika dibandingkan,kompenen pada mobil konvensional mencapai 30.000 dan pada mobil listrik hanya 10.000-20.000 komponen, sehingga jauh lebih murah dan mudah dalam perawatannya.

Bukannya Tanpa Cela
Tentunya tak ada yang sempurna di dunia ini, mobil listrik masih memiliki celah yang harus diperbaiki. Pertama, harga mobil listrik yang terbilang cukup mahal jika dibandingkan dengan mobil konvensional, ini yang membuat mobil listrik ini nantinya hanya tersegmentasi pada kelas menengah atas yang ingin merasakan sensasi berkendara yang berbeda dan ramah lingkungan.

Kedua, harga purna jual yang belum terbentuk bahkan cenderung jatuh. Mobil bekas ini cenderung tak dilirik karena life time baterai sekitar 10 tahun, sedangkan harga baterai saat ini mencapai 40 persen dari harga mobil.

Tetapi semua ini akan terjawab oleh waktu, riset dan pengembangan mobil listrik terus digiatkan oleh seluruh pabrikan otomotif dunia, mereka semua sadar, era baru akan datang. Berusaha menolak datangnya adalah keniscayaan. Seiring waktu tentunya teknologi baterai akan semakin murah dan berdampak pada harga jual mobil ini.

Ketiga, Indonesia memerlukan infrastruktur yang handal dalam kelistrikan nasional karena pengisian baterai mobil listrik membutuhkan daya listrik yang tinggi, sehingga tentunya akan meningkatkan konsumsi dan daya listrik pada sektor rumah tangga.

Selanjutnya yang menjadi point penting dari ini semua, adalah masalah pembangkit listrik. Mobil listrik tidak memiliki emisi gas buang kendaraan, tetapi listrik yang digunakan diproduksi dari pembangkit listrik. Jika pembangkit menggunakan minyak bumi atau batubara maka emisi yang dihasilkan seperti sekedar bertukar, dari yang dikeluarkan dari knalpot mobil beralih ke cerobong pembangkit. Kedepan diharapkan pembangkit listrik kita dapat lebih mengoptimalkan energi baru terbarukan sesuai dengan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yaitu bauran energi nasional mencapai 23 persen pada tahun 2025.

Kita pun tak perlu takut bahwa baterai mobil listrik akan meledak atau ketika hujan akan menjadi konslet, karena telah dilakukan pengujian berlapis, berstandar internasional yang membuat mobil listrik benar-benar aman untuk digunakan.

Akhir kata mungkin ini cukup mengecewakan, mobil listrik bukanlah menjadi solusi untuk masalah kemacetan di kota-kota besar Indonesia, Lebih beratnya lagi, kehadiran mobil listrik akan menambah kemacetan. Kita selalu menambah kendaraan di jalan raya setiap tahunnya, sedangkan lebar jalan tak bertambah. Kita selalu menyalahkan pemerintah atas kemacetan yang kita rasakan, tanpa sadar penyebab kemacetan adalah kita sendiri, tetapi setidaknya kehadiran mobil listrik memberikan dampak yang baik untuk kualitas udara di kota. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved