Tajuk

Mbah Moen

KYAI Haji Maimun Zubair, telah meninggalkan kita. Sang Guru wafat di Rumah Sakit (RS) An Noor, Kudai, Arab Saudi, Selasa (6/8) dinihari dan dimakamkan

Mbah Moen
Instagram Ustadz Abdul Somad
KH Maemun Subair atau Mbah Moen dan Ustadz Abdul Somad 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KYAI Haji Maimun Zubair, telah meninggalkan kita. Sang Guru wafat di Rumah Sakit (RS) An Noor, Kudai, Arab Saudi, Selasa (6/8) dinihari dan dimakamkan pada hari yang sama di pemakaman Al Ma’la, sekitar pukul 12.00 waktu Saudi Arabia.

Kepergian Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu tidak hanya menjadi duka bagi nahdliyin. Kepulangan Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak hanya menyedihkan pengurus dan simpatisan partai berlambang Kakbah itu.

Kepergian pengasuh Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah itu telah menjadi duka bagi sebagian besar (untuk tidak menyebut seluruh) warga bangsa. Sebab, kiai yang lahir pada saat sumpah pemuda berkumandang itu telah menjadi milik bangsa.

Setidaknya, itu dibuktikan rasa duka dan empati yang mengalir dari seluruh penjuru negeri. Termasuk dari mereka yang selama ini terkesan tidak dalam satu barisan politik. Tentu saja ungkapan duka itu ditambahi kesaksian dan pengalaman manis tentang kebajikan dan kebijakan Sang Guru.

Di antara banyak kebajikan dan kebijakan yang diungkap para tokoh itu adalah, Mbah Moen selalu mengedepankan keutuhan dan kedamaian Indonesia. Secara khusus, Sang Guru bahkan menyebut “PBNU” sebagai banteng Indonesia. PBNU yang dimaksud adalah; (1) Persatuan; (2) Bhineka Tunggal Ika; (3) NKRI; (4) UUD 1945, termasuk pembukaannya yang berisi lima sila Pancasila.

Sikap Mbah Moen yang diungkap sejumlah tokoh dari beragam latar belakang politik itu, kita harapkan menjadi bekal kesadaran terus menerus mereka dalam berbangsa dan bernegara. Bukan sekadar empati verbal atas perginya Sang Guru.

Mereka yang dalam dua hari belakangan ‘mengutip’ nasionalime ala Mbah Moen, kita harapkan tidak menggunakan cara menang yang tidak elok.

Sehingga, segala perilaku politik, termasuk pertarungan politik, yang berlangsung di masa depan, tidaklah perlu mengorbankan harmoni warga bangsa. Artinya, langkah politis yang ditempuh harus selalu memperhitungkan dampaknya bagi kedamaian dan persatuan bangsa.

Dengan demikian, kita semua tidak perlu menebar fitnah dengan menggunakan ‘data bodong’ untuk menjatuhkan orang atau pihak lain. Hanya untuk memuluskan langkah politik menuju ‘derajat’ tertentu.
Sebagaimana juga tidak perlu membangkitkan isu SARA yang bisa mengaduk-aduk emosi warga bangsa, hanya untuk memenangi sebuah pertarungan politik.

Kesadaran semacam itu tidak sekadar penting bagi masa depan Indonesia. Tapi akan membuat Mbah Moen ‘lega’. Sebab, negeri yang dicintainya dan dijaganya tetap bersatu dan damai.

Terima kasih, Mbah Moen, telah menjaga Indonesia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved