Fikrah

Keluarga Sakinah

Kisah Nabi Ibrahim AS di dalam Alquran adalah lembaran iktibar dalam membentuk keluarga sakinah. Tidak bosan-bosannya ia berdoa kepada Allah SWT

Keluarga Sakinah
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - Kisah Nabi Ibrahim AS di dalam Alquran adalah lembaran iktibar dalam membentuk keluarga sakinah. Tidak bosan-bosannya ia berdoa kepada Allah SWT meminta keturunan. Isterinya Sarahpun menyarankannya agar mengawini Hajar puteri Mesir hadiah Raja Mesir kepadanya. Hajar hamil dan melahirkan seorang putera, Ismail. Sejumlah literatur menyebutkan Hajar terusir karena kebencian Sarah.

Abdulhamid Jaudah As-Sahhar dalam bukunya Muhammadurrasulullah menjawab, “lam takun baina sarah wa hajar mukhashamatun. Wa lam tuhissu giiratan min hajar. Kaanat sarah mu’minatun tatalaqqaa awaamirallahi raadhiyatan, wa qad jazaahallaahu jazaa’asy-syaakiriin, fawaba lahaa ishaaqa wa hiya ajuzuun aqiim, antara Sarah dan Hajar tidak pernah terjadi permusuhan. Sarah tidak menaruh cemburu kepada Hajat, ia menerima perintah Allah SWT penuh ridha. Allahpun mengganjarnya dengan mengaruniakan seorang putera bernama Ishak padahal tervonis mandul.

Hajar ditempatkan di suatu tanah gersang bersama bayinya, Ismail. Ibrahim beranjak pergi meninggalkannya. “Hendak kemana kau tinggalkan kami, wahai Ibrahim.?” Ibrahim tidak menjawab. Ia bertanya lagi, “Ibrahim, Allahkah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” Barulah Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajarpun berkata, “idzan lan yudhayyi’anallahu, kalau demikian Allah tidak menyia-nyiakan kami.” Ibrahim terus pergi. Di kejauhan ia berdoa, “Wahai Tuhan, aku tempatkan sebagian keturunanku di dekat rumah Engkau yang dihormati, yang demikian agar mereka mendirikan salat, jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS.14/37).

Hajar kehabisan air, air susupun kering, Ia bolak balik tujuh kali ke bukit Safa dan Marwah. Air tak ditemukan. Ia kembali menemui Ismail untuk menyaksikan detik-detik terakhir bayinya menghadapi kematian, ternyata air memancar di bawah telapak kaki Ismail. Hajar berkata zami zami, bekumpullah. itulah air zamzam, sebuah bi’ir (sumur) yang tidak pernah kering.

Ismail bertambah besar menjadi seorang remaja. Ujian berikut, Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Ismail dan ia kemukakan langsung. Ismail menjawab tanpa ragu, If’al ma tu’maru, satajidunii insyaa Allahu minash-shaabiriin, laksanakan wahai ayah, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk mereka yang sabar.(QS. 37/102).

Detik-detik pelaksanaan penyembelihan dimulai. Ismail diikat dan ditelentangkan, ia berkata, Ayah tajamkan pisaumu agar aku tidak terlalu sakit ketika disembelih. Ikat tangan dan kakiku agar tidak menyulitkanmu melaksanakan perintah Allah. Telungkupkan badanku, aku khawatir ketika ayah memandang wajahku akan timbul rasa iba. Angkat kain bajumu kalau kalau terkena percikan darah, aku khawatir ibuku bertanya, “darah apa itu.” lepaskan bajuku, serahkan buat bundaku, semoga mengurangi pilu hatinya.”

Perintah Allah bukan sesuatu yang konyol. Fiman-Nya, ”Ibrahim qad shaddaqtar-ru’yaa inaa kazdalika najzil-muhsiniIn inna haazdaa lahuwal-balaa’ul- mubiin, Ibrahim sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu, demikian Kami berikan ganjaran kepada mereka yang berbuat baik. (QS.37/101-106). Membadanlah seekor domba untuk disembelih sebagai pengganti.

Bisakah kiranya kita meniru-niru Nabi Ibrahim untuk membentuk anak taat kepada Allah? Suatu upaya, bisakah kita menghentikan anak yang sedang bermain layang-layang untuk mendirikan salat, membangunkannya di waktu subuh, menghentikan TV, hand phone ataupun game. Kita akan dimintai pertanggung-jawaban di akhirat. Kemerosotan moral yang terjadi pada anak-anak bersumber pada perilaku orangtuanya, percekcokan atau perceraian, kasarnya perilaku terhadap anak, kelengahan dan kelalaian dalam mendidik anak, pergaulan bebas tanpa pengawasan orangtua, tayangan-tayangan sadis dan porno.(Syeikh Nasih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-Islam)

Tataplah wajah anak anda, dua bola matanya dan dua bibir dan lidahnya memancarkan sejumlah permohonan : Ayah-bundaku, cintailah aku sepenuh hatimu. Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adikku. Kian hari aku bertambah besar, jangan kau anggap aku anak kecil lagi. Biarkan aku mencoba berbuat, bimbing aku jika aku salah, dan jangan kesalahanku diungkit-ungkit. Jangan kamu rusak mental dan pemikiranku dengan membentakku. Jangan aku diikutkan dalam masalah yang seharusnya ayah-bunda hadapi berdua. Persiapkan diriku untuk menyongsong prestasi dunia-akhirat. Selamatnya anakmu jika ayah-bunda tanamkan agama (Islam) dalam diriku.

Ya ayyuhallazdiina aamanuu laa tulhikum amwaalukum walaa awlaadukum an dzikrillaahi. Hai orang-orang beriman, janganlah harta benda dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. (QS.63/9). Quu anfusakum wa ahliikum naaraa. Pelihara dirimu dan keluargamu dari neraka, (QS. 66/6). Suruhlah mereka melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, itulah yang dimaksud memelihara mereka dari neraka. (Imam Mujahid, Tafsir Ibnu Katsir). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved