Tajuk

Pelajaran dari Habibah

Habibah dan 54 rekannya berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Jemaah calon haji asal Kalimantan Selatan ini terbang dari Jakarta ke Jedd

Pelajaran dari Habibah
foto: Bahauddin/MCH 2019
Suasana di Masjidil Haram Mekkah Arab Saudi, pada hari ke-22 musim haji 2019. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Habibah dan 54 rekannya berada di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Jemaah calon haji asal Kalimantan Selatan ini terbang dari Jakarta ke Jeddah pada Selasa (6/8) sore. Penerbangan ini membawa asa bisa menunaikan rukun Islam kelima. Tidak peduli apakah mereka mendapatkan fasilitas dan akomodasi plus atau tidak. Terpenting bagi peserta ibadah haji plus itu, selain bisa beribadah, tidak malu. Soalnya mereka di rumah telah menggelar selamatan.

Ibadah haji di negeri ini memang penuh perjuangan. Untuk menunaikannya harus menunggu bertahun-tahun. Jika ingin tidak terlalu lama menunggu maka pilihannya adalah haji plus. Tentu saja ada rupa ada harga.

Contohnya, Armaniah dan suami harus menyetor Rp 350 juta sejak mendaftar ke PT Travellindo Banjarmasin pada 2013 agar bisa berangkat ke Tanah Suci. Itu pun masing-masing anggota jemaah harus menambah Rp 30 juta agar tetap bisa berangkat.

Keberangkatan sempat tertunda dari jadwal yakni Minggu (4/8). Dua hari sebelumnya, mereka sempat gundah karena staf perusahaan menyatakan keberangkatan dibatalkan karena visa belum didapat dan sejumlah kewajiban belum dibayar. Namun belakangan manajemen menyatakan ada miskomunikasi dan memenuhi janjinya memberangkatkan jemaahnya.

Terlepas jemaah jadi berangkat, apa yang terjadi pada Habibah, Armainah dan kawan-kawan menjadi pelajaran sangat berharga bagi banyak orang dan pihak berwenang khususnya yang ada di banua. Terutama bagi warga yang ingin menunaikan ibadah haji atau umrah. Carilah perusahaan perjalanan yang benar-benar bonafide dan profesional. Harus selektif dan banyak mencari informasi.

Bisnis perjalanan haji dan umrah memang menggiurkan. Masyarakat secara suka rela menyerahkan uang puluhan juta hingga ratusan juta rupiah agar bisa berangkat.

Mereka tak berharap mendapatkan bunga dari uang yang disetor. Terpenting bagi mereka adalah berangkat ke Tanah Suci. Kalau pun ada halangan, tidak mendapatkan fasilitas dan akomodasi sesuai janji atau bahkan tertunda keberangkatan, kerap dinilai sebagai cobaan.

Seharusnya ini tak membuat pengusaha perjalanan haji dan umrah bisa meremehkan mereka. Ini bisnis kepercayaan. Selain itu ini tak hanya bisnis dengan manusia, tetapi juga dengan Sang Pencipta. Ada pahala besar yang bisa didapat, di samping keuntungan usaha. Sebaliknya ada dosa yang harus ditanggung jika sampai jemaah terganggu ibadahnya.

Ini juga jadi pelajaran bagi pemerintah khususnya Kemenag untuk terus mengawasi para penyelenggara haji dan umrah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved