Berita Banjarbaru

Masih Ada 600an Pengidap HIV di Banjarbaru, Kisaran Usia 22-55 Tahun

Sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes menyebutkan pengidap HIV di Banjarbaru masih banyak.

Masih Ada 600an Pengidap HIV di Banjarbaru, Kisaran Usia 22-55 Tahun
THINKSTOCK.COM
HIV AIDS 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sekretaris komisi penanggulangan AIDS (KPA) kota Banjarbaru Edi Sampana, SKM., M.Kes menyebutkan pengidap HIV di Banjarbaru masih banyak.

"Masih banyak, sekitar 600an pengidap HIV yang belum ditemukan di Banjarbaru. Kalau mereka tidak segera ditemukan dan diberi penyuluhan agar tidak menulari orang lain dan dibawa ke RS untuk akses ARV ada 2 akibat," katanya.

Diantaranya, dia mengatakan mereka nantinya ditemukan di RS (karena sudah sakit/AIDS).

Kemudian mereka menjadi sumber penularan (mereka tidak sadar menularkan HIV ke orang lain).

"Jadi kita perlu mengidentifikasi populasi risiko tinggi (LSL, gay, waria, wanita tidak setia, pria tidak setia, pengguna narkoba), memberi penyuluhan ke mereka, dan mengajak ke Puskesmas untuk tes IMS (HIV, sifilis, GO, dll)," katanya.

Baca: Nikahi Wanita 17 tahun Lebih Tua, Ajun Perwira Akan Dapatkan Keturunan Dari Jennifer Jill

Baca: Curhat Hotman Paris Soal Masuk UGD dan Reaksinya Setelah Ulah Farhat Abbas, Pengacara Rey & Pablo

Baca: Idul Adha 2019 Syahrini dan Reino Barack yang Tak Biasa, Cara Berjalan Incess Jadi Sorotan, Hamil?

Jumlah pengidap sebanyak itu bervariasi kisaran umur 22-55 tahun.

Sementara untuk kategori latar belakang pekerjaan dikatakannya orang yang berisiko tinggi kena HIV mungkin ada pada semua pekerjaan.

Jadi apapun pekerjaannya kalau LSL, gay, waria, wanita tidak setia, pria tidak setia, pengguna narkoba maka berisiko tertular dan menularkan HIV.

"Kendala pengidap HIV tetap tidak mau berobat. Kita (dinas kesehatan dan puskesmas) tidak 'berani' penyuluhan tentang kondom. Beberapa pengidap HIV yang sudah berobat, berhenti berobat," katanya.

Kekhawatiran lain bila penyuluhan kondom, khawatir dicap 'melegalkan' zina, tidak berani juga karena masyarakat belum siap menerima info tentang kondom.

Spnduk yang ada padahal hanya menyatakan bahwa kondom bisa mencegah IMS.

Bukan menyuruh seseorang melakukan zina.

Fungsi kondom ada 2, mencegah IMS dan mencegah kehamilan.

"Mencegah IMS adalah termasuk yang menjadu misi petugas kesehatan. Kalau petugas kesehatan tidak berani, siapa lagi yang berkompeten melakukan sosialisasi kondom. Pejabat Kemenkes mengatakan bahwa dokter dianggap 'melanggar etik' kalau tidak meresepkan kondom pada pasien yang sakit IMS (HIV, sifilis, GO, hep B, hep C)," kata dia.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved