Selebrita

FAKTA Tanaman Bajakah Kalteng, Penyembuh Kanker Seperti Ani Yudhoyono, Agung Hercules & Sutopo Purwo

FAKTA Tanaman Bajakah dari Kalteng, Penyembuh Kanker Seperti Ani Yudhoyono, Agung Hercules & Sutopo Purwo

FAKTA Tanaman Bajakah Kalteng, Penyembuh Kanker Seperti Ani Yudhoyono, Agung Hercules & Sutopo Purwo
Kolase Instagram @sutopopurwo & @aniyudhoyono
Pesan Sutopo Purwo Nugroho, Penyintas Kanker Paru Stadium 4 Kepada Ani Yudhoyono 

Sutopo meninggalkan seorang istri Retno Utami Yulianingsih, dua orang putra, yakni Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Agung Hercules

Agung Hercules saat masih menjalani perawatan di RSUD Tangerang. Saat itu, Agung Hercules mendapat kunjungan dari dua sahabatnya, Sinyorita Esperanza dan Isa Bajaj.
Agung Hercules saat masih menjalani perawatan di RSUD Tangerang. Saat itu, Agung Hercules mendapat kunjungan dari dua sahabatnya, Sinyorita Esperanza dan Isa Bajaj. (Instagram | @sinyoritaesperanza)

Penyanyi dangdut sekaligus pelawak Agung Hercules (51) tutup usia setelah berjuang melawan kanker otak selama setahun ini.

Kabar meninggalnya Agung Hercules itu berhembus kencang di kalangan awak media.

 "Iya benar (Agung Hercules) meninggal dunia," kata Peter.

Agung Hercules meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Dharmais, Slipi, Jakarta Barat.

 Namun, Peter belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut seputar kondisi sebelum pemilik nama lengkap Agung Santoso itu meninggal dunia.

"Itu dulu ya. Saya lagi perjalanan ke sana (RS Dharmais)," ucap Peter.

Seperti diberitakan sebelumnya,  Agung Hercules berjuang melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya, kanker otak.

Kondisi tubuh Agung Hercules yang biasa terlihat kekar dan berotot di televisi berubah drastis menjadi kurus.

Akibat penyakit kanker otak itu, kondisi tubuh pelantun lagu Astuti turun terus.

Penemuan obat kanker

Tiga siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah menemukan obat penyembuh kanker dari kayu Bajakah.

Penemuan obat penyembuh dari kayu Bajakah itu mengantarkan mereka menjadi juara meraih juara dunia.

Batang pohon tunggal atau dalam bahasa dayak disebut dengan Bajakah diperoleh di hutan Kalimantan Tengah.

Ketiga siswa bernama Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani.  

Guru pembimbing siswa yang merupakan guru biologi, Helita mengatakan, keberhasilan ketiga siswa tersebut berawal dari informasi dari Yazid.

Yazid mengatakan bahwa ada sebuah tumbuhan di hutan Kalimantan Tengah yang kerap digunakan keluarganya bisa menyembuhkan kanker, Bahkan kanker ganas stadium empat sekalipun.

Di bawah bimbingan Helita, ketiga siswa memutuskan untuk memulai pembahasan awal yang lebih serius mengenai kayu Bajakah tersebut.

Penelitian diawali dengan uji pendahuluan di laboratorium sekolah.

Lalu penilitian dilanjutkan dengan uji sampel penelitian lanjutan, yang menggunakan dua ekor mencit atau tikus betina atau tikus kecil berwarna putih, yang sudah di induksi atau disuntikan zat pertumbuhan sel tumor atau kanker.

Sel kanker berkembang di tubuh tikus dengan ciri banyaknya benjolan pada tubuh, mulai dari ekor hingga bagian kepala.

Mereka lalu memberikan dua penawar atau obat yang berbeda terhadap kedua tikus.

Satu tikus diberikan bawang dayak dalam bentuk cairan yang diminumkan ke tikus.

Sementara tikus laiinnya diberikan air rebusan yang berasal dari kayu Bajakah.

"Setelah memasuki hari ke 50, mencit yang diberikan air penawar dari bawang dayak mati, sementara mencit yang diberikan cairan kayu Bajakah, tetap sehat bahkan justru bisa berkembang biak,” ujar Helita, Senin (12/8/2019).

Setelah melalui pembuktian terhadap media uji sampel, maka pada awal bulan Mei 2019, penelitian dilanjutkan dengan memeriksa kadar yang terdapat pada kayu Bajakah tersebut melalui uji laboratorium, yang bekerjasama dengan pihak laboratorium di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian, kayu Bajakah itu memiliki kandungan yang cukup kaya antioksidan bahkan ribuan kali lipat dari jenis tumbuhan lain yang pernah ditemukan, khususnya untuk penyembuhan kanker.

Beberapa hasil uji laboratorium ditemukan fenolik, steroid, tannin, alkonoid, saponin, terpenoid, hingga alkonoid.

Berdasarkan hasil tertulis uji laboratorium dari Universitas Lambung Mangkurat itu, ketiga siswa dibantu guru pembimbing, mengolah kayu Bajakah menjadi serbuk teh siap sedu untuk bisa dibawa ke ajang kompetisi yang akan diadakan di Bandung.

Pada 10 Mei 2019, guru pembimbing dan ketiga siswa sepakat untuk mengikuti perlombaan yang diadakan di Bandung.

“Kami sepakat untuk mengikuti lomba Youth National Science Fair 2019 (YNSF) yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kami bersyukur setelah kami berhasil memenangkan perlombaan tersebut, bahkan tak disangka bahwa kami menjadi perhatian dan berhasil meraih juara, dengan memperoleh medali emas, terbaik se-Indonesia," ujarnya.

"Ini menjadi tiket kami untuk melangkah ke tingkat Internasional,” kata Yazid.

Setelah sukses di Bandung, karya ilmiah dari ketiga siswa tersebut dipilih mewakili Indonesia, untuk tampil dalam perlombaan tingkat internasional dalam ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Namun, dalam ajang selanjutnya Yazid tidak ikut, sehingga diwakilkan oleh dua rekannya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani.

Aysa mengatakan, dia sempat merasa tidak yakin membawa hasil karya mereka ke tingkat internasional. Namun, mereka tetap berusaha tampil sebaik mungkin.

"Sehingga sangat tidak diduga kami kembali berhasil meraih juara di tingkat internasional, dengan meraih juara dunia life sains pada ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan. Kami kembali memperoleh medali emas dengan menggeser 22 negara yang ikut berkompetisi saat itu” kata Aysa.

Kemenangan tersebut membuat semangat ketiga siswa semakin meningkat.

Banyak kenangan dan wawasan yang mereka temukan saat itu yang tentu saja menjadi kebanggan tersendiri bagi para siswa karena bisa membawa harum nama Kalimatan Tengah dan Indonesia.

Anggina mengatakan, merasa bahagia dapat membantu orang banyak untuk penyembuhan kanker, dan membagi informasi tentang kearifan lokal Kalimantan Tengah.

"Ke depannya kami akan terus berupaya menggali potensi alam lainnya, agar Kalimantan Tengah yang kaya akan sumber daya bisa bermanfaat bagi banyak orang,” kata Anggina.

Hingga kini belum ada rencana baik guru pembimbing dan ketiga siswa untuk memproduksi hasil temuan mereka untuk diperjualbelikan.

Sudah sangat banyak yang menghubungi mereka agar bisa mendapatkan kayu Bajakah sebagai obat penyembuh kanker.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Lengkap Siswa SMA Temukan Obat Penyembuh Kanker hingga Menangi Juara Dunia"

Editor: Rendy Nicko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved