Inilah Alasan Liberika Jadi Kopi Andalan Kalsel

Rasanya khas dengan aftertaste ringan tanpa asam. Walaupun, saat ini jenis kopi tersebut lebih dulu dikenal andalan ekspor dari Jambi.

Inilah Alasan Liberika Jadi Kopi Andalan Kalsel - kopi-liberika.jpg
Banjarmasinpost.co.id
Kepala KPw BI Kalsel Herawanto (kiri), Bunaji (tengah) dan Dwi melihat kopi liberika usai dipanen.
Inilah Alasan Liberika Jadi Kopi Andalan Kalsel - kopi-liberika-2.jpg
Banjarmasinpost.co.id
Anggota komunitas pengusaha muda melihat bibit kopi liberika.
Inilah Alasan Liberika Jadi Kopi Andalan Kalsel - kopi-liberika-3.jpg
Banjarmasinpost.co.id
Anggota komunitas pengusaha muda menunjukkan kopi liberika usai dipanen.

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Bunaji, warga Desa Nusa Indah RT 34 Jalan Pandawa 5 Dusun Kebun Sayur, Batibati, Kabupaten Tanahlaut tampak cekatan memanjat pohon kopi miliknya. Berbekal parang panjang di tangan, dia lalu menebas cabang-cabang dahan yang dipenuhi biji-biji kopi liberika ranum berwarna merah menyala.

Di bawah pohon, dia sebelumnya telah menyiapkan terpal lebar untuk menampung biji-biji kopi yang tak sengaja terlepas dari dahan yang ditebas. Aksi memanen seperti yang dilakukan Bunaji ini mungkin tidak biasa bagi kalangan petani kopi di daerah lain. Namun, hal itu terpaksa dilakukan karena pohon kopi cukup tinggi.

Sekitar seribuan pohon kopi di lahan seluas 1 hektare, rata-rata memiliki tinggi 4-5 meter. Dia menyebut, pohon-pohon kopi itu usianya sudah lebih 15 tahun.

Bunaji menunjukkan aksi memanen kopi itu kepada rombongan dari Bank Indonesia dan sejumlah anggota komunitas pengusaha muda di Kalsel, Selasa (14/8). Lokasi kebun kopi, hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.

Dia bercerita, kebun yang dikelolanya itu adalah peninggalan pamannya. Sebagai petani, dia kembali bersemangat karena ada pihak yang peduli, bahkan bersedia menampung hasil panen kopi dari kebunnya. “Sekarang biji kopi saya ini dihargai Rp 50 ribu per kilo bersih. Dibeli sama Pak Dwi,” tuturnya riang.

Sebelumnya, kebun kopi sempat tidak terurus. Hal itu lantaran kopinya tidak laku dijual. Pedagang di pasar menilai biji kopinya terlalu kecil dan bentuknya lonjong. Berbeda dengan kopi robusta atau arabika yang marak di pasaran.

Padahal bagi pecinta kopi, jenis liberika seperti yang ada di kebun Bunaji, dinilai sebagai varietas yang layak diperhitungkan. Rasanya khas dengan aftertaste ringan tanpa asam. Walaupun, saat ini jenis kopi tersebut lebih dulu dikenal sebagai hasil perkebunan andalan ekspor dari Provinsi Jambi.

Dwi selaku pengusaha kopi mengaku prihatin dengan nasib kopi lokal Kalsel yang belum digarap serius oleh pemerintah. Dia pun bercerita memiliki motivasi mengangkat nama kopi asal Kalsel agar bisa bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain yang lebih dulu masyhur seperti Toraja, Kintamani Bali, dan Aceh Gayo. “Kalsel punya liberika. Untuk jenis ini, pemainnya masih sedikit, jadi ini peluang baik bagi Kalsel,” tuturnya.

Dia pun menceritakan respons masyarakat internasional yang sangat positif terhadap jenis kopi yang dipanen di Kalsel ini, saat dibawa dalam pameran di Finlandia pada April lalu. “Langsung habis karena unik,” ujarnya.

Ke depan, Dwi yang juga pemilik Kedai Biji Kopi ini mengaku berencana membikin ekowisata kopi di Kalsel. Untuk itu dia berharap dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah daerah dan kalangan perbankan. Saat ini, Dwi mengaku setidaknya ada 40 petani kopi di beberapa daerah seperti Aranio dan Batibati yang menjadi rekanannya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kalsel Herawanto menegaskan dukungan pihaknya terhadap upaya mengangkat kopi lokal Kalsel. Menurut Herawanto kopi bisa jadi ujung tombak penjualan produk unggulan Kalsel. “Kenapa BI sampai urusi kopi, karena kami ingin bantu tumbuhkan sumber ekonomi baru di Kalsel. Masyarakat punya potensinya, dan sektor komoditas seperti batu bara harus mulai ditinggalkan,” katanya.

Kendati begitu diakui dia, kendala yang dihadapi saat ini perkebunan kopi masih bersifat perkebunan rakyat, sehingga produksi masih belum bisa dalam jumlah besar. Namun, hal ini juga bisa menjadi peluang karena keterbatasannya akan menjadikan produk lebih spesial. (*)

Editor: Anjar Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved