Berita Tanahlaut

Ribuan Pohon Karet di Damithulu Tanahlaut Terendam dan Mati, Diduga Dampak Aktivitas Tambang

ekitar 10 hektare kebun karet di Desa Damithulu, Kecamatan Batuampar, Kabupaten Tanahlaut, terendam air dengan kedalaman hingga 3 meter.

Ribuan Pohon Karet di Damithulu Tanahlaut Terendam dan Mati, Diduga Dampak Aktivitas Tambang
banjarmasin post group/isti rohayanti
Petani Karet Desa Damithulu, Batuampar, Tanahlaut, Ismanto menunjukan kedalaman air yang membanjiri kebun karet warga setempat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Sekitar 10 hektare kebun karet di Desa Damithulu, Kecamatan Batuampar, Kabupaten Tanahlaut, terendam air dengan kedalaman hingga 3 meter, sehingga mati dan tak bisa disadap, Rabu (13/8/2019).

Banjir yang terjadi bukan karena hujan. Dugaan sementara air yang menggenangi ribuan pohon karet di Desa Damithulu berasal dari galian tambang yang berjarak sekitar lima kilometer dari kebun karet tersebut. Tepatnya pada desa tetangga, yakni Desa Batalang, Kecamatan Jorong, Tanahlaut, Kalsel.

Jejeran tanaman karet di Desa Damithulu, RT 4 yang terendam air sudah tak bisa diapa-apakan lagi oleh para petani. Akibat kejadian tersebut, penghasilan petani pun menurun, bahkan merugi hingga puluhan juta.

Petani karet Desa Damithulu, Ismanto mengatakan ada sekitar 10 hektare lahan terdampak kebanjiran. Jelasnya, genangan air itu memang karena tambang yang beraktivitas sekitar ima kilometer dari lokasi.

Baca: Bekuk Jaringan Pengedar Sabu di Simpangempat Banjar, Dit Narkoba Polda Kalsel Temukan 0,5 Ons Sabu

Baca: Kisah Unik di Balik Berdirinya Kabupaten Tanahbumbu, 27 Januari 2003 Puncak Mengharukan

Dalam satu hektare lahan karet, mencapai 500 hingga 600 pohon yang terendam air. Apabila dikalkulasi, sekitar  5.000 pohon karet terkena banjir akibat aktivitas tambang tersebut.

“Karena terkendala air jadi kami tidak bisa menyadap. Belum lagi karetnya yang mati karena terendam” ucap Ismanto, Senin (12/8/2019) kemaren.

Lelaki itu juga menunjukan tanaman karet yang menjadi ladang air. Apalagi dampak tersebut hanya dirasakan sejak satu tahun terakhir, yakni pada September 2018 kemaren.

Sejak saat itu ujarnya, pemilik karet pun merugi dan tidak lagi bisa menyadap hektaran lahan karet yang seharusnya bisa menjadikan penghasilan.

Baca: Wawancara Eksklusif Veteran Pejuang H Antamas : Penjajahan Jepang Paling Mengerikan

Baca: Setelah Dilamar Pakai Hafalan Alquran 30 Juz, Ayu Ting Ting Ungkap 5 Kriteria Calon Suami Idamannya

Ismanto juga bercebur ke sungai yang membanjiri karet-karet di lahan itu. Ia menunjukan ketinggian air, sekitar tiga meter dari daratan yang hampir mencapai kepalanya.

Sebelumnya sebut Ismanto, aduan juga sudah diutarakan kepihak desa, begitupun pihak kecamatan serta pemerintah daerah.

(banjarmasinpost.co.id/Isti Rohayanti)

Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved