Opini Publik

Spirit Iduladha untuk Kemandirian Bangsa

Agustus tahun ini, ada dua momen besar dan bersejarah bagi umat Islam di tanah air, yaitu Iduladha atau Hari Raya Kurban dan Hari Kemerdekaan NKRI.

Spirit Iduladha untuk Kemandirian Bangsa
ROBBYANOOR UNTUK BPOST GROUP
Suasana pemotongan hewan kurban di LPKA Martapura, Senin (12_08_2019) pagi. 

Oleh: DR M Arif Budiman SAg MEI
Ketua Umum Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (ADPISI) Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada bulan Agustus tahun ini, setidaknya ada dua momen besar dan bersejarah bagi umat Islam di tanah air, yaitu Iduladha atau Hari Raya Kurban dan Hari Kemerdekaan NKRI ke-74. Kedua momen ini mengajarkan nilai yang sangat berharga yaitu spirit pengorbanan.

Berdasarkan arti leksikalnya, kata “kurban” dan “korban” memiliki makna yang identik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa “kurban” berarti persembahan kepada Allah, seperti biri-biri, sapi, unta, yang disembelih pada hari raya Haji, sedangkan “korban” bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan dan sebagainya.

Dengan demikian, kedua kata ini memiliki makna yang sama, yaitu memberikan sesuatu yang sangat berharga sebagai bukti ketaatan dan kesetiaan.

Spirit Pengorbanan

Intisari dari peringatan Iduladha adalah ibadah kurban. Kurban termasuk ibadah tertua dalam sejarah. Bila dilacak akar historisnya, kurban telah dikenal sejak zaman Nabi Adam, yaitu ketika kedua puteranya, Qabil dan Habil, diperintahkan untuk mempersembahkan kurban kepada Allah (QS. Al-Maidah: 27).

Namun dalam bentuk ritualnya seperti yang dijalankan saat ini, ibadah kurban sebenarnya merupakan napak tilas episode kehidupan Nabi Ibrahim beserta keluarganya sebagaimana diabadikan oleh Alquran dalam surat Ash-Shaffat ayat 102-107.

Dari rangkaian ayat tersebut tampak dengan jelas betapa besarnya nilai pengorbanan yang ditunjukkan oleh Ibrahim, Ismail, dan Hajar. Ibrahim dikarunia anak pada usia 86 tahun setelah melalui masa penantian yang amat panjang. Namun tatkala putranya lahir, Allah justru memerintahkan Ibrahim untuk menempatkan bayi mungil beserta ibunya itu di lembah Mekkah yang sepi dan gersang.

Hajar pun menabahkan hatinya menjalani perintah Allah dan tinggal bersama bayi kecilnya di lembah asing tak berpenghuni itu dengan penuh perjuangan. Ketika persediaan air habis, Hajar sangat bingung, apalagi Ismail kecil terus menangis kehausan. Hajar berusaha sekuat tenaga mencari air dengan berlari antara bukit Shofa dan bukit Marwa sebanyak tujuh kali lantaran mengira disana ada air padahal yang tampak hanya fatamorgana. Namun akhirnya, Allah mengeluarkan air dari sela-sela kaki Ismail yang kemudian dikenal dengan nama sumur Zamzam.

Kemudian, setelah sekian tahun meninggalkan anak dan istrinya, kerinduan Ibrahim sudah tak terbendung lagi. Namun kerinduan itu ternyata diuji kembali oleh Allah dengan perintah untuk menyembelih anak kesayangannya itu. Perintah itu tentu saja amat berat, namun Ibrahim ikhlas melaksanakannya setelah diyakinkan oleh Ismail. Setelah nyata ketaatan keduanya, maka Allah kemudian mengganti Ismail dengan hewan sembelihan yang besar.

Rangkaian ujian ketaatan pada perintah Allah beserta kepasrahan total dan pengorbanan paripurna yang ditunjukkan oleh keluarga Ibrahim sungguh menjadi ibrah yang sangat berharga bagi generasi-generasi berikutnya.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved