Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Veteran Pejuang H Antamas : Penjajahan Jepang Paling Mengerikan

Sebagian orang ingat, sebagian orang lupa dan mungkin banyak generasi muda yang tidak tahu, 10 Agustus lalu adalah Hari Veteran Nasional.

Wawancara Eksklusif Veteran Pejuang H Antamas : Penjajahan Jepang Paling Mengerikan
banjarmasin post group/eka pertiwi
H Antamas 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebagian orang ingat, sebagian orang lupa dan mungkin banyak generasi muda yang tidak tahu, 10 Agustus lalu adalah Hari Veteran Nasional. Salah satu orang yang selalu mengingatnya adalah H Antamas.

Warga Kalimantan Selatan yang telah berusia 94 tahun ini pun ketika diwawancarai BPost terkenang perjuangannya bersama rekan-rekan mengangkat senjata melawan penjajah, khususnya di Hulu Sungai Tengah (HST).

Pengalaman apa yang sangat berkesan bagi kakek saat perjuangan?
Saat mengusir penjajah, saya bertemu dengan pejuang besar seperti H Hasan Basry, Damanhuri, Abrani Sulaiman dan Daeng Lajida. Perjuangan saya bersama orang-orang besar tersebut pernah diabadikannya dalam dokumentasi foto. Namun foto itu sudah tidak ada lagi, ikut terbakar dalam sebuah musibah dua tahun lalu.
Apa yang diingat saat bersama Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan Brigjen Hassan Basry?
Saya ingat betul, saya sering diminta memijat tubuh Hassan Basry. Rumahnya ada di Banjarbaru. Setiap kali pulang ke Kalsel, dia pasti memanggil saya. Selalu minta pijat. Hassan Basry paling senang saya pijat. Beliau adalah komandan sekaligus teman.

Bagaimana dengan Damanhuri?
Beliau pejuang asal Ilung Hulu Sungai Tengah. Kami sering bertemu saat berjuang. Saya senang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Barabai.

Perjuangan apa yang paling berkesan?
Tragedi Haliau di Kecamatan Batu Benawa, HST. Bagaimana desa ini menjadi saksi bisu perjuangan zaman penjajah. Ketika dijajah oleh Belanda dan Jepang, warga tak bisa bebas. Bahkan, kehidupan pun memprihatinkan, mulai dari berpakaian dari karung goni hingga makan umbi-umbian. Tak jarang, saya juga tak makan hingga tiga hari lamanya. Kebanyakan warga Hantakan memilih pergi ke hutan ketimbang bertemu dengan Belanda atau Jepang. Tentunya ke hutan harus sembunyi-sembunyi. Jika ketahuan, bakal menjadi masalah besar.

Yang paling mengerikan, dijajah Belanda atau Jepang?
Saya merasakan bagaimana pahitnya penjajahan Jepang kala itu. Bahkan, penjajahan Jepang paling mengerikan dibanding penjahahan Belanda. Saya masih ingat bagaimana tentara Jepang menghimpun pajak dari pribumi. Setelah Jepang dibom atom. Mereka pulang. Seluruh senjatanya ditinggal di Indonesia. Itulah warisan Jepang.

Ada pesan buat generasi muda sekarang?
Saya hanya berpesan kepada generasi muda agar tidak lagi membiarkan penjajahan terjadi.
Semua serbasakit kalau dijajah. Makan saja sulit. Berpakaian dari karung. Sekarang kita bebas. Kepada pemimpin jangan sampai korupsi. Ingat perjuangan kami dulu. (wie)

Baca juga di Harian Banjarmasin Post edisi, Selasa (13/8/2019)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved