Tajuk

Asap di Kota Palangkaraya

KABUT asap di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, semakin menjadi. Senin (12/8), ribuan pelajar dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama

Asap di Kota Palangkaraya
tribunkalteng.co/fathurahman
Kabut Asap di Palangkaraya dan Sampit, Kotim Kalteng, makin parah dan belum tertanggulangi, karena hujan belum mengguyur wilayah ini 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KABUT asap di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, semakin menjadi. Senin (12/8), ribuan pelajar dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Palangkaraya kena dampaknya. Mereka terpaksa dipulangkan sebelum pelajaran dimulai.

Dinas Pendidikan Palangkaraya mengambil kebijakan meliburkan pelajar karena kualitas udara dinilai dapat mengganggu kesehatan. Beberapa hari ini layar indeks pencemaran udara di Palangkaraya menunjukan kondisi udara yang sangat tidak sehat, bahkan sempat dalam kondisi berbahaya.

Di Kalimantan Selatan, meski juga terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi kualitas udara dinilai belum mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat relatif normal. Data dari Satgas Karhutla BPBD Kalsel, dari Januari sampai 10 Agustus 2019, 12 kota dan kabupaten di Kalsel sudah terjadi karhutla. Di Kota Banjarmasin terjadi dua kali karhutla dengan luas 0,45 ha, Banjarbaru terjadi 64 karhutla dengan 85, 93 ha, di Kabupaten Banjar terjadi 30 karhutla dengan luas 80,98 ha, Batola terjadi empat kali karhutla dengan luas 2,2 ha.

Kabupaten lainnya, Tapin terjadi 24 karhutla dengan luas 146 ha, HSS terjadi 22 karhutla dengan luas 38,8 ha, HST terjadi 15 karhutla dengan luas 38,6 ha, Balangan terjadi 20 karhutla dengan luas 73,31 ha, Tabalong terjadi 18 karhutla dengan luas 38,78 ha, Tala terjadi 101 karhutla dengan luas 157,42 ha, Tanbu terjadi 15 karhutla dengan 72,5 ha, Kotabaru terjadi 15 karhutla dengan luas 36, 5 ha.

Secara nasional, kabut asap ini juga menjadi masalah tersendiri. Presiden Jokowi sempat dibuat malu oleh asap. Penyebabnya, Indonesia lagi-lagi diprotes karena mengimpor kabut asap negara tetangga, utamanya ke Singapura dan Malaysia. Asap tersebut bersumber dari ratusan titik api atau hotspot sudah bermunculan di beberapa provinsi.

“Saya kadang-kadang malu. Minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura. Tapi, saya tahu minggu kemarin sudah jadi headline, jadi HL, jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita. Saya cek jerebu ini apa, ternyata asap (kabut),” kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019) lalu.

Sejatinya rasa malu itu bukan Jokowi saja, tapi kita semua. Semua penduduk di republik ini. Kita harus malu dicap sebagai negara pengimpor asap. Agar tidak malu, maka mau tidak mau kita harus berupaya keras mencegah terjadinya karhutla.

Selain faktor alam, cuaca kering atau kemarau panjang, karhutla itu terjadi akibat ulah dari manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Karena itulah kita harapkan ada tindakan tegas kepada pelakunya tanpa pandang bulu, perorangan atau korporasi.

Kita harus sepakat membakar hutan dan lahan merupakan kejahatan serius. Kita juga harus sepakat, penegak hukum harus lebih galak dan tanpa ampun menindak para pelakunya yang terbukti melanggar. Bila perlu menyeret mereka hingga ke meja hijau dan diberi hukuman berat. Yakinlah, dengan kesepakatan itu hutan dan lahan terselamatkan dari kebakaran. Di luar itu, wallahu a’lam bish-shawabi (Dan Allah Mahatahu yang benar atau yang sebenarnya). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved