Berita Kabupaten Banjar

Petani Jeruk Kabupaten Banjar Waswas, Organisme Pengganggu Tumbuhan Mulai Mengancam

Petani jeruk di Desa Sungaialat Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar sekarang waswas, karena adanya ancaman dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Petani Jeruk Kabupaten Banjar Waswas, Organisme Pengganggu Tumbuhan Mulai Mengancam
Kiriman Dinas TPH Kabupaten Banjar
Petani jeruk di Desa Sungaialat Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Petani jeruk di Desa Sungaialat Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar sekarang waswas, karena adanya ancaman dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Mengingat serangan OPT adalah tanaman jeruk yang menyebabkan produksi jeruk menurun dengan banyaknya penyakit yang ditemui pada pertanaman jeruk di Kecamatan Astambul yaitu penyakit Diplodia.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar pun sudah melaksanakan kegiatan pelatihan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) jeruk di Desa Sungaialat Kecamatan Astambul. Bertujuan sebagai ajang silahturahmi dan tanya jawab antara petugas kabupaten dan kelompok tani binaan agar SDM petani meningkat dan petani mau dan mampu mengendalikan OPT tanaman Jeruk.

Kegiatan itu dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar, M Fachry, Koordinator POPT-PHP Kabupaten Banjar, Kapala Seksi Tanaman Pangan, Kepala Seksi Perbenihan dan Perlindungan TPH, Kepala BPP Kecamatan Astambul, POPT-PHP Kecamatan Astambul, Ketua KTNA, Mantri Tani Kecamatan Astambul dan petani yang mengembangkan jeruk di Desa Sungaialat.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG & Live Streaming Sidang Tahunan MPR 2019, Lokasi Ibu Kota Diumumkan?

Baca: LIVE INDOSIAR - Link Live Streaming Madura United vs Persija Jakarta di Liga 1 2019 Malam ini

Baca: Anak Yatim dari Kaluarga Miskin Jadi Paskibraka Nasional, Asraf Pinjam Sepatu Robek Ketika Seleksi

Koordinator Petugas OPT- Pengamat Hama Penyakit, Syaiful Bachri menjelaskan bahwa Diplodia merupakan salah satu penyakit paling berbahaya pada tanaman jeruk. Penyakit ini dikenal dua macam yaitu Diplodia basah dan Diplodia kering, keduanya sama-sama disebabkan oleh jamur Botryodiplodia Theobromae Pat.

Gejala Diplodia basah ditunjukkan dengan adanya blendok atau gumosis berwarna kuning keemasan pada cabang atau ranting terserang, pada stadia lanjut, kulit tanaman mengelupas atau bahkan bisa mengakibatkan kematian. Gejala Diplodia kering lebih sulit dikenali pada awal serangan, karena tidak ada blendok serangan lanjut atau parah baru terlihat kulit batang atau cabang mengelupas, kemudian mengering atau bahkan bisa mengakibatkan kematian tanaman.

"Penyakit Diplodia merupakan penyakit utama karena menyebabkan kematian pada batang dan cabang tanaman jeruk di Indonesia. Penyebaran penyakit ini di Indonesia hampir di seluruh pertanaman jeruk, terutama yang telah berumur lebih dari 10 tahun dengan pemeliharaan yang kurang intensif," katanya, Jumat (16/8).

Lanjutnya, serangan penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat) dipengaruhi beberapa faktor antara lain sumber inokulum, suhu, kelembaban, kebersihan kebun dan alat serta varietas. Tingkat serangan penyakit blendok berhubungan erat dengan tingkat perawatan kebun, biasanya kebun yang tidak terawat, serangan diplodia sangat tinggi.

Penyakit ini biasa menyerang saat musim kemarau atau saat tanaman dalam kondisi kekurangan air. Patogen ini sangat mudah sekali berkembang dalam suhu dan kelembaban yang tinggi. Selain itu, faktor karena adanya pelukaan, perbedaan suhu siang dan malam yang tinggi serta pemeliharaan yang kurang optimal juga dapat memicu perkembangan jamur patogen ini.

"Untuk menghindari hal tersebut ada beberapa usaha pencegahan yang bisa dilakukan lebih awal yaitu menjaga kebersihan kebun dengan memangkas ranting kering dan cabang yang terserang penyakit, dan ranting pangkasan dibakar atau ditimbun, menjaga alat pertanian seperti pisau, gunting pangkas maupun alat lainnya selalu dicuci bersih dan diolesi kapas yang dibasahi alkohol 70 persen atau clorox 0,5 persen sebelum dan setelah digunakan, mengoles batang dan cabang dengan bubur California bubur bordo, pengolesan sebaiknya dilakukan pada awal dan akhir musim hujan," bebernya.

Selain penjelasan dari Koordinator POPT, Mantra Tani Kecamatan Astambul, H Marhadiansyah juga mengenalkan beberapa bahan alami untuk mengatasi hama dan penyakit jeruk seperti sirih, lengkuas, serai, brotowali atau penawar sampai dan sirsak. Sirih senyawa yang terkandung dalam sirih antara lain minyak atsiri eugenol, methyl eugenol, dan lainnya.

Dia juga menjelaskan, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman bahwa untuk pengendalian OPT lebih disarankan menggunakan bahan alami untuk mengurangi dampak negatif dari pestisida kimia dan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan demikian perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu, dimana pestisida merupakan alternatif terakhir.

Diharapkannya, dengan adanya pelatihan ini bisa meningkatkan kemampuan petani dalam mengendalikan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura khususnya jeruk sehingga hasil produksi jeruk petani meningkat dan Kabupaten Banjar bisa menjadi agrowisata jeruk. (Banjarmasinpost.co.id/Hasby)

Penulis: Hasby
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved