Fikrah

Syukur dan Kemerdekaan (Refleksi HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan RI)

SABTU besok, 17 Agustus 2019, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-74 Republik Indonesia dan secara resmi diadakan upacara peringatan Hari Proklamasi

Syukur dan Kemerdekaan (Refleksi HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan RI)
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Ah aku anaknya, setelah mengecap nikmat kemerdekaan, hanya bersuka riang memanjat pohon pinang yang dilicinkan, berebut kue-kue dan baju kaus bergelantungan, tertawa terbahak berderai-derai, ada pula para pemuda bermain bola dengan kostum perempuan. Waktu berlalu dari sesudah Zuhur sampai Magrib, minimal dua salat terabaikan, tujuh belas Agustus tegak tapi tujuh belas rakaat salat runtuh berantakan.

Ah aku anaknya, mudah-mudahan lebih baik dari mereka yang hanya berebut lahan, membabat hutan, mengeruk bumi, daratan dan lautan.

Untaian puisi ini hanyalah bagian dari refleksi jiwa yang begitu merasa bersyukur dan bahagia tapi sekaligus juga prihatin. Syukur dan bahagia karena Allah SWT telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya berupa nikmat kemerdekaan kepada segenap Bangsa Indonesia sehingga sampai sekarang kita merasakan kedamaian dan kesejahteraan hidup tanpa huru- hara peperangan.

Sedangkan perasaan prihatin, terbit dari pandangan mata yang menyaksikan sebagian perayaan HUT Proklamasi secara berlebihan dan justru menciderai pemaknaan suci hakekat syukur dan kemerdekaan.

Dalam isi pembukaan UUD 1945 tertera dinyatakan, ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kemerdekaan merupakan rahmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri. Dan ketika kita bersyukur, maka Allah SWT memastikan akan menambah nikmat-Nya. Sebaliknya, jika kita kufur nikmat-Nya, maka ancamanNya, azab yang pedih.

Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya,”Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7).

Hakekat Syukur, menggunakan segala nikmat-Nya di jalan kebaikan, taat ibadah kepadaNya. Kita terkadang larut lupa diri dalam euforia perayaan 17 Agustus, tapi kemudian lalai menegakkan kewajiban sebagai seorang hamba Allah. Apalagi perayaan yang menjurus pada kemaksiatan sampai pesta pora miras. Perayaan semacam ini akan mendapat laknat Allah.

Sebuah riwayat menyebutkan, ketika Rib’i bin Amir ra, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia. Rib’i bin Amir ra menjawab, “Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”

Dalam riwayat tersebut, jelas Islam memandang hakekat kemerdekaan secara menyeluruh baik lahiriah maupun batiniah. Kemerdekaan secara yaitu kemerdekaan atau bebas dari penghambaan kepada selain Allah SWT menuju tauhid, memurnikan keesaan Allah SWT.

Sedangkan secara lahiriah, yakni kemerdekaan dari kesempitan dunia dan ketidakadilan menuju kelapangan dan keadilan Islam. Sehingga bisa dikatakan bahwa makna kemerdekaan dari ajaran Islam adalah kemerdekaan yang sempurna bagi umat manusia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved