Berita Kesehatan

Ahli Tegaskan Obati Kanker dengan Herbal Bisa Berbahaya, Begini Penjelasan Dr Walta Gautama, Sp.B(K)

Sebuah tulisan mengenai obat herbal dan kanker beredar di linimasa Facebook hari ini. Dalam narasi yang beredar, seorang mantan wartawan yang juga

Ahli Tegaskan Obati Kanker dengan Herbal Bisa Berbahaya, Begini Penjelasan Dr Walta Gautama, Sp.B(K)
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi kanker payudara 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebuah tulisan mengenai obat herbal dan kanker beredar di linimasa Facebook hari ini. Dalam narasi yang beredar, seorang mantan wartawan yang juga menjadi calon legislatif bernama Dyah Wahyu Winarni sedang berjuang melawan kanker.

Dalam postingan tersebut diceritakan bahwa ia divonis mengidap kanker stadium awal pada medio 2012. Dengan pengobatan medis selama satu tahun, ia dinyatakan sembuh.

Namun, sejak 2016, ia beralih pada ramuan dan pengobatan herbal dan alternatif.

Pada 2018, ia menyesal dengan langkahnya menghentikan terapi medis lantaran dokter memvonis kanker payudaranya kembali dan telah menyebar di berbagai tempat.

Kompas.com meminta komentar terhadap narasi yang beredar ini pada dokter onkologi, Dr Walta Gautama, Sp.B(K) Onk yang praktik di RS Dharmais.

Baca: Tayangan KompasTV Tentang Obat Kanker Bajakah Dianggap Picu Penjarahan Hutan, Ini Komentar Aiman

Baca: Akar Bajakah Ada Ratusan Jenis, Ada yang Bersifat Racun hingga Mencegah Kerontokan Rambut

Baca: PRO KONTRA Gaya Rambut Cornrow Agnez Mo, Terinspirasi Budaya Afirka atau Papua Ya?

Walta menyebut, mengkonsumsi obat herbal untuk menyembuhkan kanker bisa mengakibatkan seseorang men-delay penanganan kanker yang harusnya ditangani dengan cepat.

“Orang sakit kanker beda dengan orang sakit jantung ataupun penyakit lain. Orang sakit kanker kalau stadium tambah, angka harapan sembuh makin kecil, pengobatan makin komplek,” tuturnya kepada Kompas.com, Jumat (16/8/2019).

Ia menghimbau, kepada masyarakat untuk berhati-hati dan tak mudah percaya dengan obat-obatan herbal yang diklaim bisa menyembuhkan kanker.

“Kalau terjadi delay pengobatan. Misal harusnya stadium 2 dia datang tapi terlambat pertanyaannya siapa yang akan bertanggung jawab? Yang terima nasib kan pasiennya,” lanjut Walta.

Menurutnya, obat herbal itu masuk ke dalam complimentary medicine, atau pengobatan penunjang, sehingga mereka belum bisa digolongkan sebagai obat kanker.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved