Tajuk

Jangan Bosan

SEBANYAK 600 pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, tidak diketahui keberadaannya

Jangan Bosan
THINKSTOCK.COM
HIV AIDS 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBANYAK 600 pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, tidak diketahui keberadaannya. Ini berdasar data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjarbaru. Paling berkontribusi atas angka itu adalah praktik hubungan seks sesama lelaki , kemudian yang berikutnya adalah prostitusi.

Upaya Pemko Banjarbaru bersama DPRD Kota Banjarbaru, memang sudah terlihat. Mereka menerbitkan Perda Nomor 6 Tahun 2002 tentang Larangan Prostitusi. Mereka menutup lokalisasi. Kemudian, menjaga semua itu, Satpol PP-nya dan kepolisian setempat rutin mengawasi kawasan eks lokalisasi untuk menjaga agar tidak ada lagi praktik prostitusi.

Kemudian, dinilai perlu juga supaya petugas Dinas Kesehatan menyosialisasikan tentang alat kontrasepsi. Hanya, tantangan yang dihadapi, anggapan bahwa penggunaan kontrasepsi adalah melegalkan seks bebas, melegalkan zina. Sekali lagi, ini tantangan.

Ada pula warga yang pesimistis, lokalisasi tidak akan hilang. Tetap ada, tapi sembunyi-sembunyi. Pesimistisnya mereka lagi, pelaku praktik prostitusi juga bergerak di tempat-tempat lain, di tempat lebih modern, lebih elit. Karena itu, potensi kemunculan HIV/AIDS tidak bisa ditekan. Apalagi dihilangkan. Tentu, ini juga tantangan bagi semua pemerintah daerah di Kalsel. Tidak hanya mengawasi eks lokalisasi, tapi juga tempat-tempat yang lebih elit. Beranikah pemerintah daerah ? Ya harus berani. Katanya, ingin menekan angka pengidap, ingin menekan penularan. Sedangkan kemunculan virus, disebutkan salah satunya kontribusi dari prostitusi.

Perkembangan sekarang, alat komunikasi terkini kian memudahkan untuk saling berhubungan. Fakta, tak sedikit yang menyalahgunakannya untuk bisa melakukan kegiatan seks menyimpang. Juga, prostitusi ala online. Polisi sudah banyak mengungkap kasus-kasus layanan seks dan sejenisnya, serta yang lain-lain. Anak-anak dijual muncikari ke lelaki hidung belang, transaksi secara online.

Tragisnya lagi, anak-anak juga makin sering menggegerkan masyarakat dengan ulah seks mereka yang kemudian tersebar di aplikasi pesan instan. Tentu, polisi memproses semua temuan itu. Juga, menyeret para tersangkanya sampai ke sidang di pengadilan. Meski hukuman ringan, polisi tetap terus melakukan tugasnya.

Lalu, bagaimana tindakan pemerintah daerah? Ya harus terus-menerus seperti yang dilakukan kepolisian. Kan, demi menekan angka pengidap. Demi mencegah perluasan penularan virus. Kalau tidak, angka kasus akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sedangkan upayanya terhadap pengidap, jangan juga banyak alasan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved