Tajuk

Kemerdekaan Bajakah

“Kemerdekaan” bajakah sebagai bagian dari keanekaragaman tumbuhan di hutan Kalimantan, sangat terancam bila tidak segera dicegah.

Kemerdekaan Bajakah
Adrie P. Saputra | Facebook Stalino
Berdasarkan temuan tiga siswa dari SMAN 2 Kota Palangkaraya itu, tanaman bajakah disebut bisa menyembuhkan kanker kini marak dijual di Kalteng maupun secara online. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - PADA bulan kemerdekaan, Agustus tahun ini, masyarakat Kalimantan mendapat dua “kado” istimewa. Pertama, penegasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa calon ibu kota negara pengganti Jakarta, dipastikan berada di Pulau Kalimantan. Namun, belum disebutkan provinsi dan lokasi yang dipilih.

Yang kedua, makin terkenalnya Kalimantan di tingkat dunia, terutama di bidang medis. Adalah sejumlah siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalteng yang kian memopulerkan Kalimantan berkat prestasi juara di ajang World Invention Creativity Olumpic (WICO) di Seoul, Korsel. Mereka dinobatkan sebagai pemenang karena menemukan obat penyembuh kanker, yakni dari akar tumbuhan bajakah.

Kabar ini sontak menyedot perhatian masyarakat baik di skala nasional bahkan internasional. Terlebih setelah media konvensional dan media sosial beramai-ramai mewartakan dan mengulasnya dari berbagai sudut.

Namun, saat ini topik perbincangannya bukan lagi tentang torehan prestasi para siswa yang berada jauh dari ibu kota negara itu, tetapi lebih tertuju pada penemuan obat kanker. Bahkan, tidak sedikit yang secara langsung menyatakan akar bajakah adalah obat mujarab untuk menyembuhkan kanker.

Tentu itu adalah narasi yang sangat “menjual” karena kanker merupakan salah satu penyakit yang banyak penderitanya di dunia ini. Dan, nahasnya obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan kanker, sulit didapatkan.
Viralnya bajakah juga tidak lagi diikuti oleh sikap kritis yang mengupas tentang khasiat tumbuhan yang konon hanya ada di hutan Kalimantan itu. Perbincangan apa dan bagaimana tumbuhan yang terbilang langka tersebut jarang muncul.

Padahal, menurut masyarakat yang tinggal di kawasan hutan Kalimantan, bajakah memiliki banyak jenis. Masing-masing memiliki khasiat penyembuhan penyakit yang berbeda, tidak semua bajakah efektif untuk menyembuhkan kanker. Bahkan, kabarnya ada pula bajakah yang beracun.

Kekritisan untuk lebih mendalami terlebih dulu tentang bajakah serta manfaatnya tertelan oleh euforia kemujaraban penyembuhan kanker. Perburuan pun terjadi. Eksploitasi pun bukan tidak mungkin terjadi, bahkan secara masif.

“Kemerdekaan” bajakah sebagai bagian dari keanekaragaman tumbuhan di hutan Kalimantan, sangat terancam bila tidak segera dicegah.

Saat ini saja dikabarkan sudah banyak beredar pelbagai varian yang diklaim sebagai bajakah. Dari berupa serbuk hingga potongan akar. Kesemua itu sudah menjadi komoditas ekonomi. Diperjualbelikan dengan harga melangit.
Simbiosis mutualisma pun terjadi. Satu pihak hilang kekritisannya karena tertutupi bayangan keampuhan bajakah. Mereka tidak peduli masih perlunya penelitian medis dan uji klinis terhadap tumbuhan tersebut untuk dinyatakan sebagai obat yang benar-benar mujarab dan aman bagi penggunanya.

Sementara di pihak lain tidak memikirkan kemungkinan adanya dampak buruk terhadap pengguna dan kerusakan kelestarian alam karena bayangan besarnya “durian runtuh” berupa keuntungan ekonomi yang bakal diperoleh.
Demi kelestarian alam Kalimantan, harus segera ada upaya konkret, kepedulian, dan gerakan untuk melindungi bajakah dari eksploitasi. Ini bukan berarti melarang, tetapi mengelola pemanfaatan bajakah secara bijaksana, tegas, terkontrol, dan taat aturan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved