Jendela

Merdeka dan Bahagia

Barangkali kita adalah satu dari sedikit, jika bukan satu-satunya, bangsa di dunia ini yang merayakan kemerdekaan sedemikian serius dan ramai.

Merdeka dan Bahagia
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Barangkali kita adalah satu dari sedikit, jika bukan satu-satunya, bangsa di dunia ini yang merayakan kemerdekaan sedemikian serius dan ramai. Upacara bendera yang begitu massif, dengan pasukan pengibar bendera yang dipilih dan dilatih begitu rupa, hingga lomba-lomba unik dan lucu dari sepak bola oleh ibu-ibu atau para lelaki memakai rok, makan kerupuk, lari pakai karung, panjat pinang dan lain-lain.

Mungkin begitulah cara kita mengungkapkan kegembiraan. Namun apakah kegembiraan sama dengan kebahagiaan? World Happiness Report 2019 yang dikeluarkan PBB meletakkan Indonesia di urutan ke-92 dari 156 negara di dunia. Ada enam variabel yang dipakai mengukur kebahagiaan ini, yaitu pendapatan per kapita, dukungan sosial, harapan hidup, kebebasan, kedermawanan, dan persepsi tentang korupsi.

Menurut laporan itu, orang Indonesia sangat dermawan alias pemurah, sehingga berada di peringkat kedua dunia. Indonesia juga unggul dalam perasaan positif, yakni peringkat ke-9, sedangkan perasaan negatif di peringkat 104. Artinya, orang Indonesia umumnya santai, suka tertawa dan menikmati hidup. Namun, soal korupsi, Indonesia berada di urutan ke-129 yang berarti korupsi masih sangat banyak.

Sekadar perbandingan, pada November 2017 silam, majalah National Geographic menurunkan tulisan Dan Buettner tentang tiga negara yang penduduknya bahagia, yaitu Denmark, Costa Rica dan Singapura. Menurut laporan PBB 2019 di atas, Denmark adalah negara paling bahagia di dunia urutan ke-2. Urutan teratas adalah Finlandia. Sedangkan Costa Rica berada di urutan ke-12, dan Singapura di urutan ke-34.

Di Denmark, masyarakat merasa bahagia karena pemerintah dapat memberikan jaminan sosial seperti pendidikan dan kesehatan gratis, gaji pensiun, perumahan yang terjangkau dan aneka fasilitas publik yang nyaman. Untuk itu, mereka rela membayar pajak penghasilan 41 hingga 56 persen! Jaminan akan berbagai kebutuhan itu membuat hidup mereka lebih tenang dan bisa dinikmati sesuai kata hati.

Di Costa Rica, tulis Dan Buettner, orang menikmati hidup dengan perasaan positif setiap hari. Sebagai contoh, seorang bernama Alejandro Zuñiga. Ia bergaul-bercengkrama minimal 6 jam sehari, dan tidur minimal 7 jam sehari. Dia bekerja tidak lebih dari 40 jam seminggu, dan sebagian waktunya digunakan untuk membantu orang lain. Tiap akhir pekan dia beribadah ke gereja dan menonton sepakbola.

Lain lagi di Singapura. Di negeri ini, orang harus bekerja keras untuk bahagia. Ukurannya memang lebih berat, yaitu kepuasan hidup. Contoh yang dikemukakan Buettner adalah Douglas Foo, pengusaha sukses yang punya usaha senilai 59 juta dollar, memiliki rumah senilai 10 juta dollar dan mobil seharga 750 ribu dollar. Dia bekerja 60 jam seminggu, termasuk waktu yang dihabiskannya untuk membantu orang lain.

Jika kita bandingkan dengan Indonesia, tampaknya Costa Rica lebih dekat dengan kondisi mayoritas bangsa kita. Jika kita di posisi ke-9, maka Costa Rica di posisi ke-4 dalam hal menikmati hidup dari momen ke momen. Seperti orang Costa Rica yang enjoyed, orang Indonesia juga pandai menciptakan humor dan melawan dengan lelucon. Derita patah hati pun bisa menjadi goyang dangdut yang aduhai.

Adapun jaminan sosial di negeri kita, sebagian besar masih dalam perjuangan. Pendidikan gratis dengan kualitas yang setara masih jauh. Kesehatan gratis dengan layanan prima, juga masih dalam impian. Perlindungan terhadap warga negara yang lemah, fakir dan miskin, juga masih dalam diskusi. Namun, jika di Denmark pajak penghasilan terendah adalah 41 persen, di kita yang terendah 5 persen saja!

Sedangkan Singapura, negara kecil tetapi amat makmur itu, memang bukan tandingan Indonesia dalam hal kekayaan warganya. Namun, jika kita bicara soal konglomerat, orang seperti Douglas Foo yang dicontohkan di atas juga ada di Indonesia. Bahkan konon, menurut bisik-bisik tetangga, para pengusaha-koruptor dari Indonesia banyak yang bersembunyi atau menyembunyikan asetnya di negeri jiran itu.

Alhasil, menurut PBB, bangsa kita belum benar-benar bahagia, meskipun sudah 74 tahun merdeka.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved