Penambangan Ilegal

Polhut Pergoki Aksi Penambang Ilegal di Desa ini, Saksi Langsung Kabur, Hanya ini yang Tertinggal

Aksi penambangan ilegal, yang disinyalir mengakibatkan kerusakan lingkungan dipergoki Polisi Kehutanan Indonesia (polhut) pada Rabu (7/8) silam.

Polhut Pergoki Aksi Penambang Ilegal di Desa ini, Saksi Langsung Kabur, Hanya ini yang Tertinggal
BPost Cetak
Blitz edisi cetak Senin (19/8/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Aksi penambangan ilegal, yang disinyalir mengakibatkan kerusakan lingkungan dipergoki Polisi Kehutanan Indonesia (polhut) pada Rabu (7/8) silam.

Bahkan kasus ini terbilang parah, karena sungai pun dibuat menciut karena aktivitas tambang tanpa izin ini.

Kabid perlindungan dan konservasi sumber daya alam dan ekosistem Dishut Kalsel, Panca, Minggu (18/8) mengatakan kegiatan tambang yang mereka hentikan tersebut ada di Kabupaten Banjar.

Dalam melakukan operasi tangkap tangan atas aktivitas penambangan dalam kawasan hutan tanpa izin, mereka mendapati alat berat berupa ekskavator merek Komatsu.

Baca: Film Midsommar Gagal Tayang di Bioskop Indonesia, Benarkah Karena Tak Lulus Sensor?

Baca: Pastikan Tak Undang Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Merry Ungkap Sosok Calon Istri

Baca: Soal Anjloknya Peringkat PTN ULM di Kemenristekdikti Begini Kritikan dari Mahasiswa dan Alumni

Baca: Bukan Incess! Panggilan Baru Reino Barack untuk Syahrini Terungkap, Jadi Indikasi Kehamilan?

Sedangkan satu unit lainnya merek Dozaan dalam keadaan breakdown, di Desa Pakutik, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar.

"Kaitan dengan kami, karena pertambangan itu masuk pada wilayah kerja KPH Kayu Tangi," kata Panca.

Diterangkan Panca, saat mereka tiba di lokasi, saksi baik para pekerja dan operator, melarikan diri ke arah hutan, sehingga di TKP tidak diketemukan adanya seseorang atau saksi yang dapat dimintai keterangan.

Kemudian, atas penggunaan alat tersebut, tim melakukan evakuasi salah satu unitnya yaitu eksavator merek Komatsu warna kuning pc200, dengan menggunakan lowbed Dinas Kehutanan.

Sedangkan eksavator satunya tidak dapat dilakukan evakuasi dikarenakan dalam kondisi rusak dan terdapat kerusakan serius pada rel atau rantai alat.

Diuraikan Panca, saat itu petugas pengawalan sempat mengalami kendala antara lain, roda ban mobil Dinas Kabid pecah dan lampu depan atau lampu utama dari salah satu bus personel juga rusak.

Bahkan ban bus personel yang lama juga pecah, sehingga harus ditinggal di dekat TKP dikarenakan tidak adanya mekanik atau tukang tambal ban.

"Juga sempat terjadi ketegangan dikarenakan adanya preman jalanan yang meminta uang dengan modus sumbangan yang dalam unsur pidana masuk dalam kategori pemerasan," runutnya.

Diuraikan dia, saat ini alat telah sampai pada gudang barang bukti di RO Ulin Banjarbaru, namun belum dapat diturunkan dari trailer dikarenakan terdapat kendala di mesin sehingga sampai dengan laporan ini disampaikan alat masih berada di posisi trailer atau lowbed.

"Atas temuan barang bukti tersebut telah dilaporkan ke kepala desa setempat secara lisan bahwa tim dinas telah melakukan evakuasi alat bukti yang diduga kuat digunakan untuk menambang tanpa izin dalam kawasan hutan," kata dia.

Adapun alat bukti yang diamankan, selain 1 unit ekskavator, juga 1 unit pompa air dan batu bara.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved