Berita Banjarbaru

Tidak Darurat Stunting, Angka Prevalensi Stunting di Kalsel Menurun

Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi

Tidak Darurat Stunting, Angka Prevalensi Stunting di Kalsel Menurun
banjarmasinpost,co.id/ achmad maudhody
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Dr HM Muslim 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.

Anak tergolong stunting apabila Panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi Panjang atau tinggi anak seumurnya.

Kalsel termasuk bukan daerah darurat stunting.

Adalah keliru jika orang beranggapan Kalsel darurat.

Menurut Kadinkes Kalsel, HM Muslim, Senin (19/8/2019) Kalsel masih belum darurat stunting.

Perlu diketahui, masalah gizi darurat menurut (Depkes RI, 2001) dalam Pedoman Penanggulangan Masalah Gizi dalam Keadaan Darurat adalah keadaan gizi dimana jumlah kurang gizi pada sekelompok masyarakat (seperti pengungsi) meningkat dan mengancam memburuknya kehidupan di masyarakat.

"Jadi masalah gizi darurat adalah dilihat dari meningkatnya masalah gizi yang akan menjadi ancaman memburuknya kehidupan di masyarakat. Lain halnya dengan masalah gizi yang membaik dan membawa perubahan yang membaik di masyarakat," kata Kadinkes Kalsel.

Baca: Seusai Pamit, Eks Asisten Ashanty Bongkar Sifat Asli Istri Anang Hermansyah, Resiah Lim Dijuluki Ini

Baca: Penyebab Chacha Frederica Tak Diundang di Pertunangan Jessica Iskandar & Richard Kyle Terungkap

Baca: Penyakit Fairuz A Rafiq Tertungkap, Imbas Ulah Galih Ginanjar, Rey Utami & Barbie Kumalasari Cs?

Baca: Video Viral Pengibaran Bendera Merah Putih di Depan Pelaminan Pengantin Jadi Paskibra, Ini Faktanya

Data membuktikan, berdasar hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4 persen selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2 persen (2013) menjadi 30,8 persen (2018).

Sedangkan prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013 dan 2018 menggambarkan bahwa Kalimantan Selatan stunting membaik dari 44,20 persen tahun 2013 menjadi 33,08 persen tahun 2018 atau mengalami penurunan sebesar 11,12 persen dalam kurun waktu 5 tahun.

"Walaupun prevalensi stunting masih di atas rata-rata nasional. Hal ini menunjukkan selama 5 tahun keseriusan pemerintah daerah dalam menurunkan stunting, jika membaca hasil riset tersebut maka upaya penurunan stunting di Kalimantan Selatan sudah berjalan dengan baik, namun tentu saja kedepan berupaya lebih keras lagi dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting di daerah. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen pimpinan daerah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota sampai tingkat desa, " tandas Muslim.

Ditekankan dia, kasus gizi buruk berbeda dengan kasus anak yang stunting.

Kasus gizi buruk keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinsis marasmus, kwashiorkor dan marasmus kwashiorkor.

Permasalahan gizi ini disebut juga masalah gizi akut dan segera harus di tangani, minimal untuk memulihkan berat badannya untuk menjadi normal.

Sedangkan anak yang stunting atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya, (kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir, tetapi baru tampak setelah anak berusia 2 tahun). Atau anak berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) <-2 SD.

Sedangkan stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK di samping berisiko pada hambatan pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

"Kalimantan Selatan berhasil menurunkan Angka Prevalensi Stunting sampai 11,12 persen dari 44,20 persen (tahun 2013) menjadi 33,08 persen (tahun 2018). Dari urutan Provinsi dari urutan ke 30 menjadi urutan 26 tingkat nasional," beber Muslim.

Karena sudah banyak program kerja Kalsel yang selaras untuk meningkatkan gizi agar tidak stunting. Dimana ketika Hari Pangan Nasional 2018 lalu Kalsel mengajak 2053 ibu hamil dalam "Isi Piringku" dan mendapat rekor Muri.

(Banjarmasinpost.co.id /lis).

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved