Opini Publik

Memahami Penurunan Suku Bunga BI

Pertengahan Juli 2019 Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps jadi 5,75 persen.

Memahami Penurunan Suku Bunga BI
banjarmasinpost.co.id/kompas.com
Bank Indonesia sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. 

Oleh: Dr Ana Sriekaningsih SE MM
Dosen STIE Bulungan Tarakan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pertengahan Juli 2019 lalu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Kebijakan BI tersebut tentu dibuat berdasarkan kondisi tertentu, pertimbangan dan asumsi tertentu. Dan untuk memahaminya, tidak bisa dilihat secara parsial.

Dalam laporan tinjauan kebijakan moneter dan keuangan yang dikeluarkan BI pada Juli 2019 lalu, ada beberapa pertimbangan kebijakan BI menurunkan tingkat suku bunga. Salah satunya adalah situasi ekonomi global yang cenderung lesu seiring berlanjutnya perang dagang AS dan China. Google dan Huawei masih saling sikut, juga Mr Trump dan Mr Xi Jinping masih sama-sama keras kepala. Kondisi ini benar-benar di luar kendali pemerintah. Kapan perang dagang akan berakhir? Tidak ada yang tahu.

Kondisi tersebut disikapi Bank Indonesia dengan strategi moneter yang tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif. Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian.

Selain ekonomi global, kondisi ekonomi domestik juga menjadi pertimbangan BI menurunkan tingkat suku bunga. Pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dan relatif sama dengan triwulan sebelumnya menjadi dasar untuk menurunkan tingkat suku bunga. Melalui kebijakan ini pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi bisa meningkat atau minimal stabil di tengah ketidakpastian situasi ekonomi global.

Namun apakah penurunan bunga bank akan berdampak pada peningkatkan pertumbuhan ekonomi? Ekonomi mungkin bisa tumbuh, tetapi mengharapkan ekonomi akan terus tumbuh secara stabil dalam jangka panjang merupakan pekerjaan yang sulit. Sulit bukan berarti mustahil, Nothing is imposible than try to do something.

Mengutip Rostow, tahapan pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi adalah high mass consumption (Tahap konsumsi tinggi). Idealnya konsumsi tinggi karena daya beli masyarakat tinggi dan daya beli bisa tinggi jika pendapatan tinggi.

Faktanya, berdasakan data triwulan kedua, konsumsi swasta masih tumbuh positif, belanja online masih stabil, demikian juga belanja pemerintah. Tren tersebut diprediksi masih berlanjut, seiring selesainya Pilpres 2019 dalam keadaan damai dan belanja pemerintah terkait proyek strategis nasional masih terus menggeliat.

Ketika trend belanja konsumsi masyarakat meningkat, pada saat bersamaan juga perlu dilakukan upaya untuk mengendalikan inflasi. Ada banyak penyebab inflasi, salah satunya adalah kenaikan harga barang dan atau jasa karena tingginya permintaan, sementara barang/jasa yang tersedia terbatas jumlahnya (Cost push inflation).

Untuk mengatasi situasi ini, yang harus dilakukan adalah memastikan barang dan jasa tersedia cukup di pasar. Kalau barang dan jasa tidak tersedia maka kebijakan fiskal mauupun moneter tidak ada gunanya. Karena itu, untuk menjaga tetap tersedianya barang dan jasa, pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendorong tumbuhnya sektor industri, perdagangan dan jasa. Penurunan BI 7-day Reverse Repo Rate menjadi 5,75 persen diharapkan dapat mendorong investasi serta mendorong pertumbuhan produksi barang dan jasa agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved