Tajuk

Menjadi Pemaaf

Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan munculnya kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin (19/8) pagi.

Menjadi Pemaaf
(Ist/Tribunnews.com)
Warga tampak melihat dari dekat toko yang dibakar massa pengunjuk rasa di Kota Manokwari Papua Barat. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MASIH dalam suasana perayaan kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia (RI), masyarakat dikejutkan dengan munculnya kerusuhan yang terjadi di Manokwari, Papua Barat, pada Senin (19/8) pagi. Mereka memprotes aksi persekusi dan diskriminasi rasial terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur.

Tak hanya di Manokwari, yang selama ini dikenal kondusif, aksi demo juga terjadi di Ibu Kota Provinsi Papua, Jayapura. Ribuan orang masyarakat dan mahasiswa melakukan long march di Jayapura. Beruntung aksi unjuk rasa di Jayapura tak berujung kerusuhan.

Mengantisipasi meluasnya aksi, pemerintah pun langsung bertindak. Tidak semata pendekatan keamanan oleh polisi dan TNI, pemerintah pusat juga turun tangan melakukan pendekatan ke sejumlah tokoh, serta mengurai akar persoalan yang terjadi di Jawa Timur. Daerah yang letaknya ratusan kilometer dari Manokwari.

Aksi kemarin bisa saja disebut akumulasi. Tapi kita juga perlu bijak melihat, bahwa persoalan mahasiswa Papua dan Papua Barat, saling berkaitan dengan peristiwa lain, tak semata kasus di Surabaya dan Malang, ada juga masalah ekonomi, sosial dan isu Papua merdeka.

Dan lagi-lagi, memanasnya suhu di Papua dan Papua Barat karena kabar hoaks serta video berisi narasi-narasi pengusiran terhadap mahasiswa. Padahal fakta yang sebenarnya tidak seperti itu.

Sampai-sampai Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta maaf atas tindakan sejumlah kelompok orang di Surabaya yang telah membuat warga Papua tersinggung. Termasuk Wali Kota Kota Malang, Sutiaji, yang meminta maaf, sekaligus meluruskan isu pemulangan mahasiswa asal Papua.

Sebuah sikap yang perlu diapresiasi, sekaligus menjadi contoh bagi pihak manapun yang terlibat di dalamnya untuk mengedepankan pendekatan secara damai. Berani meminta maaf dan bersedia memberi maaf.

“Jadi, saudara-saudaraku. Pace, mace, mama-mama di Papua, di Papua Barat, saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan se-Tanah Air, yang paling baik adalah saling memaafkan.” Demikian pesan Jokowi di Istana Kepresidenan.

Kerusuhan kemarin juga harus dipisahkan dari konteks pendatang vs pribumi, sebagaimana yang muncul di sejumlah sosmed. Karena selain menambah panas situasi, tidak ada persoalan dengan pendatang di bumi Cendrawasih.

Dan belajar dari sejumlah kasus di daerah, guna menghindari benturan antara mahasiswa, tidak hanya dari Papua atau Papua Barat, perlu dipikirkan semacam pembauran. Tak ada lagi pengelompokan atau pengkotak-kotakan secara rasial yang kaku.

Artinya mahasiswa dari daerah tidak eksklusif dan terkelompok. Namun mereka berbaur dengan saudara-saudara lain dari seluruh Indonesia. Mahasiswa Papua juga bisa mengenal dan seatap dengan mahasiswa asal Kalimantan, asal Sulawesi, Sumatra dan daerah lainnya.

Dan paling akhir, pentingnya semua pihak menahan diri dan saling menghargai. Kekerasan bukanlah penyelesaian dari problem sosial ini. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved