Berita Banjar

Atasi Kesemrawutan Lingkungan Pasar Tayibah Martapura, Begini Solusi yang Dilakukan PD Pasar dan PKL

PD Pasar Bauntung Batuah dan PKL sepakat membangun kanopi di Pasar Tayibah Martapura

Atasi Kesemrawutan Lingkungan Pasar Tayibah Martapura, Begini Solusi yang Dilakukan PD Pasar dan PKL
banjarmasinpost.co.id/idda royani
KANOPIĀ - Pemandangan kawasan Pasar Tayibah Martapura yang tampak semrawut. Saat ini sedang dibangun kanopi permanen guna mengatasi kesemrawutan tersebut. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kesemrawutan kawasan Pasar Tayibah, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), mendapat perhatian serius Perusahaan Daerah Pasar Bauntung Batuah (PD PBB).

Manajemen perusahaan 'pelat merah' itu telah melakukan komunikasi intens dengan kalangan pedagang kaki lima (PKL) setempat.

Kedua pihak bahkan telah bersepakat membangun kanopi permanen guna mengatasi kekumuhan dan kesemrawutan di kawasan pasar tersebut. 

Ukurannya kanopi tersebut 10x90 meter. Pengerjaannya saat ini masih berlangsung. Di area kanopi ini dibangun bak berjualan sebanyak 130 unit berukuran 1,5x1,5 meter.

Baca: Rasanya Maknyus, Rawon dan Sop Iga Sapi di Amaris dibanderol Rp 35.000

Baca: Head to Head, Prediksi & Live Streaming Liverpool vs Arsenal Liga Inggris 2019, Cek Mola TV & TVRI

Baca: Percintaan Raffi Ahmad dan Desy Ratnasari Terbongkar, Suami Nagita Slavina Malah Sempat Kirim Bunga

Baca: Hasil Barito Putera vs Persipura Liga 1 2019, Blunder Lini Pertahanan, Skor 0-1 untuk Persipura

Selama ini para PKL di kawasan itu memajang terpal sebagai peneduh. Namun ukuran dan tata letaknya tak beraturan sehingga memunculkan kesan kumuh dan semrawut.

Penuturan sejumlah pedagang setempat  pembangunan kanopi tersebut tidak sepenuhnya ditanggung PD PBB. Kalangan pedagang juga berkontribusi atau sharing biaya.

"Masing-masing kami membayar Rp 2 juta yang bisa dicicil selama lima bulan," ucap salah seorang PKL setempat, Jumat (23/08/2019).

Lekali berusia 40-an tahun ini berharap pengerjaan kanopi itu bisa lekas selesai sehingga dirinya dan pedagang lainnya bisa kembali berjualan secara lancar dan nyaman.

Ia berharap tidak ada lagi tambahan biaya karena untuk menuntaskan dana sharing sebesar Rp 2 juta itu pun pihaknya sudah cukup ngos-ngosan.

"Terus terang ada rasa khawatir juga kalau-kalau nanti diminta tambahan biaya lagi. Soalnya kemarin itu pihak pasar mengajukannya kan Rp 2,5 juta, sedangkan kemampuan kami cuma Rp 2 juta," tandasnya.

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved