Fikrah

Problema Narkoba

Dua hal mendorong penulis menulis tentang narkoba, pertama acara Sosialisasi Bahaya Narkoba yang diadakan oleh Badan Kerjasama Organisasi Wanita

Problema Narkoba
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Prov Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dua hal mendorong penulis menulis tentang narkoba, pertama acara Sosialisasi Bahaya Narkoba yang diadakan oleh Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kalsel di Gedung Wanita, Banjarmasin (19/8/2019), yang mengundang penulis sebagai pemateri.

Hadir di situ jajaran Pengurus BKOW dan anggotanya serta sejumlah anak panti asuhan; kedua keresahan masyarakat desa di Kalsel, kedua maraknya penggunaan narkoba dan sejenisnya seperti anak-anak remaja ngelem. Pokok bahasan berjudul: Narkoba dan Sejenisnya dalam Perspektif Agama.

Narkoba dan sejenisnya dalam bahasa Arab disebut khamar. Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis: khamar (n) adalah minuman keras. Dr Muhammad Ali Albar dalam buku Al-Khamru baina ath-Thibbi wal-Fiqh menulis, khamar menurut bahasa ialah segala sesuatu yang memabukkan, menutup akal (mukhamirun lil-aqli); menurut kimia, minuman yang mengandung alkohol, dan menurut fikih segala yang memabukkan apakah terbuat dari anggur, buah tin, kurma, anggur yang dikeringkan atau biji-bijian seperti gandum dan jagung, atau manisan seperti madu, dimasak menggunakan api atau tanpa dipanaskan, disebut khamar. Sekarang disebut wisky, brandy, beer, wine dan lain-lain, Nabi SAW bersabda, “syaya’ti qaumun yasyrabuunal-khamra wa yusammuunahu bigairi ismihi (au kama qaala). (HR.Ahmad dan Abu Daud). Nama lain disebut ji’ah. (Elyas, Modern Dictionary).

Allah SWT berfirman, Ya ayyuhalladziina aamanuu innamal-khamru wal-maisiru wal-anshaabu wal-azlaamu rijsun min amalisy-syaithani fajtanibuuhu la’allakum tuflihuun. Innamaa yuriidush-syaithaanu an yuuqi’a bainakumul-adaawata wal-baghdhaa’a fil-khamri wal-maisiri wa yashuddakum ‘an zdikrillaahi, fa hal antum muntahuun. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk berhala), mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud ingin menimbulkan permusuhan di antara kamu lantaran khamar dan berjudi dan menghalangimu dari mengingat Allah dan salat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu). (QS. 5/90-91).

Akhir 1978/awal 1979, masyarakat kita ramai dengan persoalan bir dengan adanya pelarangan penjualan bir di kompleks WTS Jakarta. Pihak produser bir merk Anker dan Skol tidak mau rugi, katanya, Departemen Agama menyatakan bir bukan minuman keras, namun Biro Hukum Departemen Agama (31/1/1979) menyatakan bir tetap haram kendati tidak sampai memabukkan, (TEMPO, 1/1/1979). Muncullah permusuhan dan kebencian lantaran bir; yang jelas bir tidak bisa dikatagorekan soft drink, artinya bir termasuk minuman keras. Fatwa MUI tentang keharaman minuman keras tak digubris dan dakwah muballig mengingatkan bencana minuman keras tak didengar.

Pernah diadakan percobaan di Amerika, para ahli memberikan minuman keras kepada beberapa jenis hewan, ternyata tidak ada yang kecanduan. Apakah hewan-hewan itu mengetahui petaka minuman keras dalam kehidupan sehingga mereka menjauhinya. Rupanya hanya manusia yang berakal yang kecanduan. Pemerintah negeri Paman Sam itu seperti kebingungan, bagaimana pencegahan minuman keras. Badan Kongres membuat Undang Undang pencegahan yang diterapkan mulai Januari 1920, ternyata tidak mempan. Belum sempat habis pabrik-pabrik bir ditutup, muncul pabrik baru yang mereka sebut Blind Pigs, beribu pencandu diadili. Antara 1920-1933 setengah juta-an pencandu dipenjara.

Di dalam Undang Undang itu disebutkan: Dilarang memproduksi minuman keras, terbuka atau tersembunyi. Dilarang memperdagangkan atau mengekspornya. Barang siapa melanggar akan dihukum penjara dan denda. Sekitar 65 juta dollar habis dana digunakan untuk mengampanyekannya. Menurut National Crime Councel, setiap tiga warga negara Amerika satu di antaranya adalah pencandu minuman keras, meningkat tiga kali dari sebelumnya, sehingga pada 1933 undang undang ini dihapuskan. Berarti gagalnya undang undang buatan manusia.

Berbeda dengan undang undang buatan Allah SWT. Lebih empat belas abad yang lalu, di tanah Arab, pada zaman yang disebut jahiliyah. Waktu itu manusia juga terjerumus pada minuman keras. Para pemuda merasa bangga jika mabuknya lebih banyak dari temannya sepergaulan. Mereka bisa berhenti total mendengar sepotong ayat, fahal antum muntahun? “

Bisakah anda menghentikan diri dari mengonsumsinya?” (QS. 5/90-92). Mendengar ayat ini, penduduk Madinah tumpah ruah keluar rumah, menumpahkan minuman keras yang tersimpan di rumah-rumah mereka ke selokan di kota itu sehingga menganak sungai. Apa sebenarnya yang membuat mereka bisa menerima seruan itu, tiada lain adalah karena iman yang ada di dalam lubuk jiwa mereka. Mengapa masyarakat modern (seperti di Amerika) gagal, tiada lain karena tidak ada iman.

Beberapa faktor membuat banyak orang tergantung minuman keras, di antaranya mudahnya didapat, kegoncangan batin dan problema kehidupan. Karenanya berhati-hatilah akan diri, keluarga kita, dan pedulilah akan keadaan masyarakat di sekeliling kita agar tidak terjerumus. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved